InfoSAWIT, JAKARTA - Anggota Presidium Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS) Ridwan Darmawan mengkritisi kerjasama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan perusahaan sawit.
Dia sangat menyayangkan organisasi nahdiyin itu melakukan kerja sama tersebut, lantaran kerjasama itu telah memunculka kekecewaan bagi para nahdiyin, aktivis lingkungan dan penggiat sosial di seluruh Indonsia.
Alasannya kata Ridwan yang juga sebagai praktisi hukum itu, untuk saat ini saja masyarakat menghadapi kelangkaan minyak goreng sawit. Dia mengaskan para cendekiawan, aktivis sosial, dan pengamat kebijakan pangan sudah menyampaikan catatan soal fenomena itu. Belakangan ini, di mana-mana terjadi antrean warga yang hendak membeli minyak goreng sawit. ”Ini ironis, Indonesia adalah negeri terbesar perkebunan sawit di dunia” tuturnya melalui melalui layanan pesan ke media.
Selain itu, Ridwan juga menyoroti efek industri sawit pada lingkungan seperti deforestasi, kebakaran hutan, bencana banjir, bahkan kekerasan mewarnai industri sawit. “Masalah pertanahan, khususnya perkebunan sawit, masih menjadi daftar tertinggi rentetan kasus konflik agraria selama ini,” katanya dilansir JPNN.
Selain itu, Ridwan juga menyoroti industri sawit yang monokultur berimbas pada pertanian berkelanjutan dan mengancam ketersediaan pangan. “Pencetakan perkebunan sawit yang terus dilakukan hingga kini jelas telah meminggirkan petani dan pertanian tradisional warga masyarakat kita,” tadasnya.
Sebelumnya Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bersama dengan Nahdhatul Ulama (NU) menandatangani Momurandum of Understanding (MoU) pendampingan kemitraan petani kelapa sawit warga Nahdatul Ulama (4/3/2022).
“GAPKI bersama NU akan bekerja sama dalam pelaksanaan Peremajaan Sawit Rakyat bagi petani NU melalui kemitraan dengan perusahaan sawit dalam bentuk pembinaan dan pendidikan,” ungkap Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT.
Menurut Joko, MoU ini penting agar petani kelapa sawit NU dapat terus meningkatkan produktivitas dalam budidaya kelapa sawit. Produktivitas dan kesejahteraan petani, menurut Joko, sangat penting bagi perkembangan sebuah wilayah. Ia menjelaskan bahwa semakin sejahtera petani, maka roda perekonomian disebuah daerah akan lebih cepat berputar.
Sementara diungkapkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama, Yahya Chalil Staquf, Kerajaan Sriwijaya yang besar selama 700 tahun harus kehilangan kejayaannya karena gagal mengelola alam. Sriwijaya kalah karena gagal merawat sungai musi sehingga terjadi pendangkalan akibatnya akses Sriwijaya terhadap dunia luar menjadi terputus.
“Peradaban tidak akan bisa bertahan jika tidak bisa menjaga alam,” ungkap Pria yang biasa dipanggil Gus Yahya.
Hal inilah yang mendasari NU untuk terus menjaga jagat (alam). “Kita semua, tidak hanya di Indonesia tapi seluruh dunia, tidak akan mampu bertahan jika tidak mampu merawat alam,” tandas dia. (T2)










