Berita Lintas
sawitbaik

Guna Atasi Pasokan Minyak Sawit, Pelaku Dianjurkan Tingkatkan Produktivitas



Foto: Rafi Brata Alfanu/Sawitfest 2021
Guna Atasi Pasokan Minyak Sawit, Pelaku Dianjurkan Tingkatkan Produktivitas

InfoSAWIT, PETALING JAYA – Saat ini para pelaku minyak sawit harus fokus pada peningkatan hasil dan bukan pada perluasan lahan sebagai jalan keluar dari krisis pasokan minyak sawit mentah (CPO), yang pada akhirnya membuat harga pada kontrak berjangka CPO mencapai level tertinggi sepanjang masa yakni RM 8.163 per ton, menurut kepala penelitian Inter-Pacific Securities, Victor Wan.

Bulan sebelumnya bahkan harga CPO tercatat mencapai level tertinggi dan bersejarah menjadi batas ketinggian harga CPO yang baru serta melintasi ambang RM 6.000/ton, puncaknya dengan rekor RM 6.808/ton pada 2 Maret 2022 lalu.

Melihat kondisi demikian Victor Wan setuju dengan pandangan populer yang melukiskan kelangkaan minyak nabati yang meluas, kesengsaraan rantai pasokan akibat dampak pandemi dan perang Ukraina-Rusia yang sedang berlangsung sebagai biang keladinya. Kondisi ini diperparah oleh masih sulitnya perkebunan sawit Malaysia memperolah tenaga kerja.

lebih lanjut tutur Victor Wan, ke depan, pelaku kelapa sawit harus fokus pada peningkatan hasil daripada memperluas areal untuk menyelesaikan masalah ini.  “Mengingat perkebunan sawit masih disorot terkait isu lingkungan, sosial, dan tata kelola, khususnya pada aspek keberlanjutan,” kata Wan seperti dilansir SunBiz.

Dia berpendapat bahwa bahkan jika pekebun berniat untuk memperluas, ada kelangkaan lahan bagi mereka untuk melakukannya.

“Secara keseluruhan, hari-hari CPO menjadi RM 2.000 pmt telah lama berlalu dan harga dengan level RM 6.000 kemungkinan akan menetap lebih rendah segera setelah beberapa masalah diatasi,” kata kepala peneliti Inter-Pacific Securities tersebut.

Untuk produsen Malaysia, dia menyatakan bahwa ketika masalah terkait tenaga kerja asing telah ditangani, ini akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi dan mengurangi ketidaksesuaian pasokan-permintaan yang mendorong harga CPO.

Meskipun harga naik, Victor Wan mengatakan produsen harus menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi, terutama karena input pupuk yang membuat harga melonjak karena berasal dari sumber petrokimia yang sejalan dengan harga minyak yang telah meningkat.

Lingkungan harga komoditas yang tidak terkendali telah menyebabkan negara-negara, terutama Malaysia dan Indonesia, menunda atau mengacaukan mandat biodiesel mereka, mengubah tujuan mereka untuk beradaptasi dengan situasi pasar. (T2)