InfoSAWIT, KUALA LUMPUR - Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Datuk Zuraida Kamaruddin mengatakan, ekspektasi penurunan harga CPO mulai kuartal III tahun ini perlu diimbangi dengan peningkatan produksi. Malaysia menargetkan produksi minyak sawit mentah (CPO) mencapai 20 juta tondi tahun 2022, naik sekitar 2 juta ton dibandingkan pada tahun 2021 yang mencapai 18 juta ton.
Lebih lanjut tutur Datuk Zuraida, dalam konferensi pers bersamaan dengan Konferensi Palm & Lauric Oil 2022, masuknya 32.000 tenaga kerja asing pertama untuk sektor perkebunan melalui izin khusus diharapkan akan terjadi pada Mei atau Juni 2022.
“Pada saat yang sama, kita tidak dapat mengandalkan tenaga kerja asing dan [harus] terus meningkatkan mekanisasi. Ada beberapa teknologi yang telah diidentifikasi untuk diterapkan dalam tiga hingga lima tahun ke depan dan pada saat itu, saya yakin penggunaan tenaga asing tenaga kerja bisa berkurang sekitar 40%," tutur Zuraida seperti dilansir The Edge Malaysia.
Kementerian Perkebunan dan Komoditas Malaysia tercatat sedang mengerjakan target subsidi untuk minyak goreng sawit, yang diharapkan akan selesai pada akhir tahun, setelah diskusi dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Urusan Konsumen pada tingkat menteri bulan lalu. “Kami ingin membantu segmen yang dibidik, yaitu mereka yang membutuhkan bantuan di saat harga CPO sedang tinggi,” ujarnya.
Menurut Zuraida, pemerintah saat ini telah mengalokasikan subsidi sebanyak 720,00 ton minyak goreng sawit.
Sementara Ketua Bursa Malaysia Derivatives Datuk Muhamad Umar Swift berpandangan bahwa subsidi saat ini adalah alat yang tidak sempurna mengingat cakupannya yang luas. “Jadi pemerintah melihat secara khusus membantu mereka yang membutuhkan bantuan karena jumlah subsidi yang terus meningkat,” katanya. (T2)







