Berita Lintas
sawitbaik

Menghitung Untung Integrasi Sapi-Kelapa Sawit



Menghitung Untung Integrasi Sapi-Kelapa Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Akibat hasil kebun sawit plasma yang pas-pasan untuk kebutuhan hidup petani plasma, maka para petani melakukan usaha tambahan yang bisa memberikan hasil lumayan guna meningkatkan kehidupan petani.

Diantaranya adalah beternak sapi di kebun sawit plasma yang telah mereka miliki. Areal kebun kelapa sawit plasma ini merupakan alternatif pengembangan kawasan baru untuk pemeliharaan sapi.

Usaha peternakan dikebun sawit ini dikenal dengan istilah, Integrasi sapi dengan Kebun Sawit. Saat ini tidak banyak perusahaan perkebunan sawit yang melakukan pembinaan terhadap program integrasi Sapi dengan Kebun Sawit ini. Tetapi di kebun-kebun plasma milik petani hal ini telah diterapkan secara mandiri oleh petani.

Beberapa petani mendapat bantuan sapi unggul dari pemerintah daerah dan perusahaan besar kepada kelompok tani, dimana jika sapi yang dipelihara mempunyai anak sapi maka anak sapi tersebut menjadi milik petani pemelihara pertama, kemudian pemeliharaan selanjutnya diserahkan kepada petani lain yang berminat. Jika kemudian sapi tersebut kembali beranak maka anak sapi akan menjadi milik petani pemelihara sapi, demikian seterusnya sampai sapi induk tersebut dihibahkan oleh pemerintah atau perusahaan besar tersebut kepada kelompok dan menjadi milik kelompok tani tersebut.

Sebagian petani sawit yang mempunyai kemampuan lebih akan melakukan intergrasi sapi-sawit ini secara mandiri, dimana pengadaan sapi unggul dilakukan secara pribadi dan sapi tersebut dipelihara di kebun plasma milik mereka.

Hal ini telah berhasil dilakukan oleh petani plasma di beberapa daerah, dimana sistem pemeliharaannya dilepas di kebun plasma karena bahan makanan berupa rumput sangat cukup tersedia.

Setidaknya cara integrasi sapi-kelapa sawit ini terdapat 8 keuntungan bagi petani sawit yang juga merangkap sebagai peternak yang menerapkan integrasi sapi-sawit ini diantaranya pertama, diversifikasi penggunaan sumber daya produksi, kedua, mengurangi resiko usaha karena faktor produksi.

Ketiga, efisiensi penggunaan tenaga kerja, keempat, efisiensi penggunaan input produksi, kelima, mengurangi biaya produksi, keenam, mengurangi ketergantungan kimia dan biologi serta sumber masukan lainnya.

Lantas ketujuh, sistem ekologi lebih lestari, tidak menimbulkan polusi sehingga ramah lingkungan, serta kedelapan, meningkatan pendapatan keluarga.

Dengan adanya sapi diperkebunan kelapa sawit maka biaya perawatan kebun akan bisa diturunkan, karena sapi akan memakan rumput-rumput yang ada dikebun sehingga pertumbuhan gulma bisa dikendalikan secara alami.

Kotoran sapi juga bisa bermanfaat sebagai pupuk kandang sehingga bisa menambah produksi kelapa sawit menjadi meningkat.

Sapi yang diternakan ini akan meningkatkan penghasilan yang cukup besar bagi petani setaelah 1-2 tahun mendatang, dimana penghasilan petani akan meningkat dengan perhitungan sebagai berikut:

Dengan asumsi hasil kebun kelapa sawit (20 ton/ha/tahun), maka produksi per bulan 1,7 ton/Ha = Rp. 2,55 juta/ha/bulan. Pendapatan bruto setelah dikurangi cicilan bank = Rp. 1,785 juta/ha/bulan Pengeluaran untuk kebun sawit = Rp. 0,73 juta/bulan, pendapatan petani plasma kelapa sawit = Rp. 1,055 juta/ha/bulan

Hasil pemeliharaan sapi/ekor/tahun = Rp. 15 juta/ekor/tahun, biaya pemeliharan sapi =Rp. 0,- karena sistem lepas di kebun, pendapatan petani = Rp. 1,2 juta/ekor/bulan

Maka jika petani plasma memiliki kebun kelapa sawit plasma 2 ha yang masih membayar kredit Bank dan 2 ekor sapi akan mendapatkan hasil rata-rata per bulan = Rp. 4,5 juta/bulan.

Sedangkan bagi petani plasma yang telah lunas kredit Bank-nya akan mendapatkan hasil rata-rata perbulan = Rp. 7,05 juta/bulan

Berdasarkan hal tersebut maka integrasi sapi dan sawit sangat baik diterapkan karena tidak memerlukan pengelolaan yang sulit bagi petani plasma, dan akan mensejahterakan petani dengan bisa meningkatkan petani plasma menjadi lebih sejahtera.

Ahmad Hulaimi*

*) Praktisi Perkebunan Kelapa Sawit/ Regional Head di Perkebunan Kelapa Sawit Swasta

Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi Juni 2020