InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Perdagangan minyak sawit di Bursa Berjangka Malaysia jatuh untuk sesi kedua berturut-turut pada Kamis (31/3/2022), terseret oleh penurunan harga minyak mentah di tengah kabar bahwa Amerika Serikat akan memanfaatkan cadangan minyak mentahnya, sementara investor menunggu data ekspor Maret dari surveyor kargo.
Kontrak minyak sawit acuan FCPOc3 untuk pengiriman Juni 2022 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM 68 atau 1,15%, menjadi RM 5.862 (US$ 1.395,38) per ton di awal perdagangan.
Dilansir Reuters, para pedagang sedang menunggu surveyor kargo untuk merilis data pengiriman ekspor untuk bulan Maret 2022.
Minyak mentah berjangka menukik lebih dari US$ 5 per barel di tengah laporan bahwa pemerintahan Biden sedang mempertimbangkan untuk melepaskan sekitar 1 juta barel minyak per hari dari cadangan strategis selama beberapa bulan dalam upaya untuk menahan melonjaknya harga minyak mentah.
Dengan melemahnya harga minyak mentah di bursa berjangka, membuat minyak kelapa sawit menjadi pilihan yang kurang menarik untuk bahan baku biodiesel.
Kontrak kedelai teraktif Dalian, DBYcv1 naik 0,6%, sementara kontrak minyak sawit DCPcv1 turun 0,5%. Harga kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 turun 1,1%.
Minyak sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lainnya lantaran bersaing untuk memperoleh bagian di pasar minyak nabati global. (T2)







