InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Bukan lagi rahasia umum bahwa minyak sawit menyumbang 32% dari produksi minyak dan lemak di dunia, diikuti oleh minyak kedelai sebanyak 25% dan minyak nabati lainnya sebesar 24%. Sementara untuk minyak kanola dan minyak bunga matahari masing-masing menyumbang 11% dan 8%.
Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOC) mencatat harga minyak sawit terus meningkat sejak kuartal ketiga 2021 karena produksi yang lebih rendah dari perkiraan di Malaysia dan Indonesia.
Chief executive officer MPOC, Wan Aishah Wan Hamid mengatakan, konflik antara Rusia dan Ukraina telah mengakibatkan lonjakan permintaan untuk minyak sawit karena ketersediaan paling melimpah diantara minyak nabati lainnya.
“Akibatnya, harga minyak sawit naik 21% menjadi US$ 1.990 per ton (US$ 1= RM4.21) pada 2 Maret 2022, dari US$ 1.640 per ton yang tercatat pada 25 Februari 2022,” katanya dalam presentasinya, dalam Seminar Internet Kelapa Sawit (Pointers) sebelumnya pada Senin (28/3/2022).
Sementara diungkapkan pengamat industri minyak sawit Malaysia, MR Chandran, Malaysia memiliki kapasitas untuk memenuhi permintaan minyak sawit yang terus meningkat. Chandran memperkirakan penyerapan bahan minyak sawit bersertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) asal Malaysia masih sekitar 75% .
“Ini berarti ada cukup minyak sawit berkelanjutan bersertifikat yang tersedia di pasar untuk dibeli Iceland. Namun, mereka harus membayar premi yang lumayan,” tegasnya seperti dilansir The Edge Market.
Chandran menambahkan, Malaysia hanya menggunakan 10%-12% dari produksi minyak sawitnya dan sisanya diekspor.
Sementara merujuk analisa CGS-CIMB Futures yang berbasis di Kuala Lumpur, kenaikan harga dipicu oleh adanya invasi Rusia ke Ukrainan sehingga mengganggu pasokan minyak bunga matahari, lantas adanya penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO) oleh pemerintah Indonesia, kendati kebijakan tersebut pada akhirnya dicabut. Termasuk adanya analisa studi terkait penerapan biodiesel di Amerika Serikat yang bisa berdampak pada pasokan minyak nabati untuk makanan. (T2)







