InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit di Bursa Berjangka Malaysia melemah pada hari Selasa (6/4/2022) setelah sebelumnya selama dua hari harga meningkat, turunnya harga minyak minyak sawit dipicu turunnya harga minyak mentah, meskipun kerugian dibatasi oleh kekhawatiran pasokan di sekitar komoditas global di tengah kekhawatiran sanksi baru terhadap Rusia.
Kontrak minyak sawit acuan FCPOc3 untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM 33 per ton, atau turun 0,56%, menjadi RM 5.882 (US$1.394,50) selama awal perdagangan.
Dilansir Reuters, perdagangan minyak mentah di bursa berjangka memperpanjang kerugian dari hari sebelumnya, lantaran data menunjukkan peningkatan stok minyak mentah AS dan perpanjangan pembatasan kegiatan di Shanghai memicu kekhawatiran permintaan yang lebih lambat, menjadikan minyak sawit pilihan yang kurang menarik untuk bahan baku biodiesel.
Amerika Serikat dan sekutunya pada Rabu (6/4/2022) bakal kembali menjatuhkan sanksi baru pada bank dan pejabat Rusia dan melarang investasi baru di Rusia, kata Gedung Putih, setelah para pejabat di Washington dan Kyiv menuduh Moskow melakukan kejahatan perang di kota Bucha, Ukraina.
Presiden Vladimir Putin mengatakan pada Selasa (5/4/2022) bahwa Rusia harus mengawasi ekspor makanannya ke negara-negara yang bermusuhan karena sanksi Barat telah memicu krisis pangan global dan melonjaknya harga energi.
Kontrak soyoil paling aktif di Dalian DBYcv1 naik 2,7% sementara kontrak minyak sawit DCPcv1 naik 2,6% setelah penutupan dua hari. Harga kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 turun 0,3%.
Analis Reuters Wang Tao mengatakan, harga minyak sawit mungkin akan berada di RM 5.966 per ton, dengan potensi naik menjadi sekitar RM 6.104 per ton. (T2)










