Berita Lintas
sawitbaik

Rencana Penyetopan Ekspor Minyak Sawit, Dongkrak Harga Minyak Kedelai Terbang Tertinggi



Foto: Domi Yanto/SawitFest 2021/ Ilustrasi kebun sawit
Rencana Penyetopan Ekspor Minyak Sawit, Dongkrak Harga Minyak Kedelai Terbang Tertinggi

InfoSAWIT, LONDON — Adanya keputusan dari Indonesa yang akan menyetop seluruh ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng sawit, telah membuat harga minyak kedelai melonjak ke rekor tertinggi pada Jumat (22/4/2022),  lantaran meningkarnya kekhawatiran menipisnya alternatif pasokan minyak nabati global dan bahan bakar berdampak pada inflasi pangan global.

Hilangnya pasokan dari Ukraina, selaku pemasok utama minyak bunga matahari dunia, dan terjadinya kekeringan yang berdampak pada produksi minyak kedelai utama dunia, Argentina telah memicu kenaikan tajam harga minyak nabati global sepanjang tahun ini.

Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOc2 naik ke puncak 83,21 sen per lb pada hari Jumat, naik 4,5 persen pada hari itu dan rekor tertinggi. Dilansir Reuters, harga sekarang telah meningkat hampir 50% sepanjang tahun ini.

Indonesia merupakan produsen dan pengekspor minyak sawit terbesar dunia, guna mengatasi kenaikan harga minyak goreng sawit domestik, pemerintah Indonesia berencana menyetop ekspor CPO dan minyak goreng sawit, kebijakan tersebut telah memicu lonjakan inflasi pangan di tempat lain.

Diungkapkan analis di Oil World yang berbasis di Hamburg, Siegfried Falk, ini adalah berita buruk bagi konsumen minyak nabati di banyak negara yang saat ini sangat bergantung pada minyak sawit mengingat kekurangan minyak bunga matahari, minyak kanola dan minyak kedelai.

Lebih lanjut kata Siegfried Falk, para pembuat kebijakan di Indonesia telah memutuskan kebijakan tersebut dalam upaya meredam inflasi harga pangan domestik, sehingga memicu inflasi di tempat lain.

Padahal, inflasi makanan telah menjadi perhatian utama di seluruh dunia setelah invasi Rusia ke Ukraina, pengekspor utama gandum, jagung, barley, minyak bunga matahari dan minyak kanola.

Badan pangan PBB melaporkan awal bulan April, bahwa harga pangan telah melonjak hampir 13% pada Maret ke rekor tertinggi baru. (T2)