InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit di Bursa Berjangka Malaysia tercatat melonjak hampir 6% pada Senin (25/4/2022) ke level tertinggi dalam enam minggu terakhir, paska produsen utama minyak sawit dunia, Indonesia berenana melarang ekspor minyak nabati yang paling banyak digunakan, memicu kekhawatiran krisis pasokan minyak nabati di dunia.
Kontrak minyak sawit acuan FCPOc3 untuk pengiriman Juli 2022 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM 320 per ton, atau naik sekitar 5,82%, menjadi RM 6.725 (US$ 1.548,11) per ton di awal perdagangan, mencapai level tertinggi sejak 11 Maret lalu.
Sebelumnya, Presiden Indonesia Joko Widodo pada Jumat (22/4/2022) telah memutuskan untuk melarang ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng sawit per 28 April, cara demikian dilakukan untuk dalam upaya menurunkan harga minyak goreng sawit domestik yang harganya melambung tinggi, dengan memenuhi pasokan.
Harga kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 melonjak ke rekor tertinggi menyusul kenaikan 2,2% di sesi sebelumnya. Kontrak kedelai teraktif Dalian DBYcv1 naik 1,5%, sementara kontrak minyak sawit DCPcv1 naik 5%.
Analis teknis Reuters Wang Tao mencatat, harga minyak kelapa sawit mungkin akan berada di RM 6.392 per ton, dengan potensi kenaikan sekitar RM 6.548 per ton. (T2)













