InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit di Bursa Berjangka Malaysia kembali naik tipis pada Selasa (6/4/2022), setelah munculnya rincian lebih lanjut tentang larangan ekspor minyak sawit dari Indonesia, telah meredakan kekhawatiran.
Kontrak minyak sawit acuan FCPOc3 untuk pengiriman Juli 2022 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM 169 per ton, atau naik sekitar 2,71%, menjadi RM 6.398 (US$ 1.471,82) per ton di awal perdagangan.
Tercatat harga kontrak minyak sawit turun 2% pada penutupan perdagangan Senin (25/4/2022) setelah sebelumnya sempat naik hampir 7% pada awal perdagangan pada hari tersebut.
Dilansir InfoSAWIT dari Reuters, Indonesia hanya akan melarang ekspor RBD Palm Oil mulai Kamis (28/4/2022), sementara larangan itu tidak akan mencakup minyak sawit mentah atau bentuk produk turunan lainnya, diungkapkan Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kemenko, Musdhalifah Machmud.
Namun, larangan ekspor lebih lanjut dapat dilakukan jika ada kekurangan minyak sawit olahan, menurut presentasi yang diberikan pemerintah Indonesia kepada perusahaan.
Ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk 1-25 April turun 12,9% menjadi 897.683 ton dari periode yang sama di bulan Maret, merujuk laporan surveyor kargo Societe Generale de Surveillance.
Kontrak soyoil teraktif Dalian, DBYcv1 turun 2,1%, sementara kontrak minyak sawit DCPcv1 turun 0,5%. Harga kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 naik 0,9%.
Analis teknis Reuters Wang Tao, harga minyak sawit mungkin akan terus meninggi dikisaran RM 6.326 – RM 6.392 per ton, menyusul stabilnya harga di level RM 6.104 per ton. (T2)













