InfoSAWIT, JAKARTA – Harga minyak sawit di Bursa Berjangka Malaysia terus menunjukkan kenaikan harga pada sesi kedua di Rabu (27/4/2022), merupakan respon dari para investor dari dampak keputusan pemerintah Indonesia yang melarang ekspor RBD Palm Olein.
Kontrak minyak sawit acuan FCPOc3 untuk pengiriman Juli 2022 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM 166 pert ton, atau naik sekitar 2,59%, menjadi RM 6.566 (US$ 1.507,35) per ton di awal perdagangan.
Dilansir InfoSAWIT dari Reuters, kenaikan harga ini lantaran adanya larangan ekspor RBD Palm Olein yang ditetapkan pemerintah Indonesia yang akan resmi diterapkan pada 28 April 2022, langkah ini guna memenuhi kebutuhan minyak goreng domestik, hanya saja larangan ini bisa saja diperluas bila pasokan belum juga terpenuhi, kata pejabat senior di Kementerian.
Sementara itu Impor minyak sawit Uni Eropa pada periode 2021/22 mencapai 4,02 juta ton atau terdapat penurunan sekitar 400 ribu ton dari sebanyak 4,42 juta ton pada priode sebelumnya.
Ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk 1-25 April turun 12,9% menjadi 897.683 ton dari periode yang sama bulan lalu, catat surveyor kargo Societe Generale de Surveillance.
Kontrak kedelai teraktif Dalian DBYcv1 naik 2,71%, sementara kontrak minyak sawit DCPcv1 naik 3,86%. Harga kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 turun 0,06%.
Catat Reuters, untuk perdagangan FCPOc3 kelapa sawit harga minyak sawit bisa mencapai RM 6.548 per ton, dengan perkiraan peningkatan harga berkisar RM 6.686 hingga RM 6.797 per ton. (T2)













