InfoSAWIT, MUMBAI - Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi minyak goreng, India terkendala impor. Dua pertiga dari permintaan dipenuhi oleh impor. Minyak sawit menyumbang sekitar 60-65% dari total impor.
Meskipun impor minyak nabati India turun dan ketersediaan domestik meningkat selama tahun 2020-21, nilai impor minyak nabati India tercatat naik karena adanya kenaikan harga komoditas. Sementara itu, produksi minyak nabati dalam negeri meningkat untuk mengisi penurunan impor dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak masa gangguan pandemi Covid-19, harga minyak nabati sudah mulai menguat. Lockdown, gangguan rantai pasokan, migrasi tenaga kerja menyebabkan lonjakan tersebut. Gelombang kedua pandemi ditambah dengan permintaan yang luar biasa tinggi menyebabkan melonjaknya harga.
Awalnya, di tingkat global, pembatasan Covid-19, kekurangan tenaga kerja di Malaysia, peningkatan mandat bahan bakar nabati, cuaca kering di Amerika Selatan dan permintaan yang tinggi dari China untuk penimbunan mengganggu rantai pasokan minyak nabati.
Perang Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung juga telah meredam sentimen. India mengimpor 1,744 juta ton minyak nabati dari Ukraina dan 348 ribu ton dari Rusia pada periode 2020/2021.
Sementara itu merujuk catatan Pasar minyak sawit India diperkirakan akan tumbuh pada CAGR sebesar 9,8% selama 2021-2026.
Bhavna Shah dari Malaysian Pall Oil Council (MPOC) mencatat, pemerintah India telah bekerja keras, untuk meredam inflasi yang melonjak. Bea masuk telah direvisi beberapa kali. Kebijakan impor untuk minyak sawit olahan telah diubah dari “dibatasi” menjadi “bebas”. Mekanisme kontrol harga tambahan seperti membekukan nilai tarif, memberlakukan batas persediaan dan menangguhkan perdagangan berjangka minyak nabati dan biji minyak telah diadopsi.
Namun demikian, semua ini tidak menghasilkan hasil yang diinginkan guna meredam tingginya harga. Hal ini memaksa pemerintah untuk meluncurkan Misi Nasional Minyak Goreng – Kelapa Sawit (NEMO-OP). Untuk program tersebut pemerintah India menyiapkan US$ 1,49 miliar (Rs. 11.040 Crore) dialokasikan dalam upaya untuk mengurangi ketergantungan impor dan mencapai swasembada minyak nabati. (T2)










