InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Minyak sawit telah kehilangan potensi peningkatan harga paska pemerintah Indonesia mencabut larangan ekspor, sehingga membuka potensi harga minyak sawit terus merosot karena pasokan meningkat disaat permintaan sedang melemah.
Harga minyak sawit di Bursa Berjangka di Malaysia melorot hampir 6% minggu ini ditengah spekulasi kebijakan larangan ekspor Indonesia. Faktanya, pemerintah Indonesia telah kembali membuka kran eskpor yang langsung diumumkan Presiden Joko Widodo pada Kamis, (19/5/2022) yang akan efektif pada Senin (23/5/2022).
Dilansir Bloomberg, larangan Indonesia, yang diberlakukan sejak 28 April, menjadi salah satu proteksionisme komoditas terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina, yang menghambat ekspor minyak bunga matahari dan memperburuk kekurangan minyak nabati global. Minyak kelapa sawit digunakan dalam segala hal mulai dari makanan, sabun hingga bahan bakar, dimana kebijakan Indonesia tersebut telah mendorong harga lebih tinggi lagi, meskipun sejak saat itu mulai menurun karena lemahnya permintaan dari para konsumen utama minyak sawit.
Diungkapkan Manajer Umum Perdagangan Minyak Dan Gandum di Savola Foods, Tajgir Rahman, harga minyak sawit diperkirakan menjadi RM 5000 (US$ 1.135) per ton pada Juli atau Agustus 2022 akibat pasokan yang melimpah di pasar.
Sementara merujuk data surveyor kargo menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia ke ke India dan China mulai berkurang pada paruh pertama Mei, disaat pengiriman ke negara lainnya meningkat. Ini terjadi lantaran tingginya harga, sehingga menahan permintaan dari kedua negara, ditambah China saat ini sedang menghadapi situasi buruk dengan adanya lockdown guna menghadapi Covid-19.
Sementara diutarakan Analis RHB Research, Hoe Lee Leng, kedepan akan banyak perubahan kebijakan bisa terjadi, termasuk kemungkinan kenaikan harga dasar untuk minyak curah, penunjukan entitas untuk memastikan pasokan domestik, pungutan ekspor yang lebih tinggi atau bahkan memulihkan skema kewajiban pasar domestik dengan parameter yang berbeda, katanya dalam sebuah laporan resmi.
Di Bursa Berjangka, minyak sawit diperdagangkan pada RM 6.007 per ton pada Kamis (19/5/2022). Pengamat sawit, Dorab Mistry memperkirakan awal Juni harga minyak sawit bisa turun menjadi RM 5.000 per ton dan kembali melorot menjadi RM 4.000 pada September setelah Indonesia kembali membuka kran ekspornya dan usainya perang di Ukraina. (T2)










