Berita Lintas
sawitbaik

Enam Perusahaan Ajukan Persetujuan Ekspor Minyak Sawit



Dok. InfoSAWIT
Enam Perusahaan Ajukan Persetujuan Ekspor Minyak Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA – Pemerintah Indonesia telah menerima permintaan pertama untuk izin Persetujuan Ekspor (PE) minyak sawit pada Senin (30/5/2022), kata seorang pejabat senior, menjadi awalan dari kembalinya kegiatan ekspor minyak sawit yang tertunda.

Kendati keran ekspor minyak sawit Indonesia kembali dibuka setelah dilakukan pelarangan selama tiga pekan, perusahaan pengekespor minyak sawit kesulitan dengan regulasi yang telah dtetapkan yang akhirnya menghambat proses ekspor.

Diungkapkan Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Veri Anggriono, sampai hari Senin terdapat lima hingga enam perusahaan yang mengajukan permohonan Persetujuan Eskpor dan sistem akan segera memprosesnya. “Kami berharap izinnya bisa dikeluarkan hari ini," kata Veri seperi dilansir Reuters.

Saat ini Indonesia kembali menetapkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO) untuk memperlancar pasokan bahan baku minyak goreng sawit curah, serta menjaga harga tetap terjangkau.

Pemerintah telah menargetkan ekspor sebanyak 1 juta ton minyak sawit selama periode waktu yang tidak diungkapkan, berdasarkan program DMO. Dengan demikian ekspor hanya setengah dari volume ekspor bulanan sebelum dilakukannya pelarangan.

Volume perusahaan yang diizinkan untuk mengekspor akan tergantung pada kapasitas penyulingan mereka dan permintaan minyak goreng dalam negeri, menurut peraturan.

Veri mengatakan rasio alokasi ekspor dan distribusi domestik sesuai DMO sekitar 20%. Tercatat sebanyak 75 produsen minyak sawit terdaftar untuk program minyak goreng curah.

Sementara Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono berharap, ekspor bisa segera kembali ke level sebelum larangan mencapa  2,5 juta hingga 3 juta ton per bulan.

Larangan ekspor minyak sawit itu sempat mengejutkan pasar minyak nabati global, yang sebelumnya masih berada di bawah tekanan akibat kekurangan pasokan minyak bunga matahari yang disebabkan oleh perang di Ukraina. (T2)