InfoSAWIT, JAKARTA - Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar ekspor luar negeri kian mendaki. Kendati sempat menembus hingga US$ 1.829 (26/5), harga CPO kembali menggeliat hingga akhir Mei 2022 sebesar US$ 1.765/Ton.
Paska pengumuman Presiden Jokowi akan pencabutan larangan ekspor CPO dan produk turunannya, pasar global yang didominasi ekspor CPO asal Indonesia sempat mengalami kenaikan harga jual signifikan, hingga US$ 1.829/Ton. Namun, ekspektasi pasar global menemui kekecewaan besar, lantaran CPO asal Indonesia tak kunjung dapat izin Pemberitahuan Ekspor (PE) lantaran adanya kewajiban pemenuhan Domestik Market Obligation (DMO) hingga 20% sebagai bahan baku minyak goreng curah rakyat.
Jika dibandingkan pada saat pengumuman pencabutan ekspor CPO dan produk turunannya pada 20 Mei silam, dimana harga jual CPO sebesar US$ 1.380/Ton. Harga jual CPO telah mengalami kenaikan sebesar US$ 385/Ton di akhir Mei (31/5/2022).
Pertumbuhan harga yang mencapai 28? ini, menjadi sinyal kuat bagi pasar ekspor CPO yang masih mengalami pertumbuhan permintaan pasar global.
Merujuk data MPOC, pergerakan harga jual CPO (23/5/2022) sebesar RM 6.072 mengalami kenaikan hingga RM 6.304 pada akhir Mei 2020 (31/5/2022).
Pusat Data Bisnis InfoSAWIT (PDBIS) memperkirakan adanya pertumbuhan permintaan pasar ekspor yang berasal dari negara-negara pengimpor minyak nabati dunia, memberikan sinyal kuat akan kebutuhan minyak sawit sebagai sumber utama pasokan dari minyak nabati yang kian populer yang penggunaan utamanya untuk minyak makanan. Pasalnya, keberadaan pasokan minyak nabati global lainnya, seperti soybean (minyak kedelai) dan sun flower (minyak biji matahari) masih mengalami defisit pasokan.
Adanya rencana Pemerintah Indonesia yang akan meningkatkan stok CPO guna mengamankan pasokan bahan baku minyak goreng domestik dan industri hilir nasional hingga 10 juta ton. Diprediksi PDBIS, akan menyulitkan negara pengimpor CPO untuk memenuhi kebutuhan pasokan di negaranya.
Sinyal terkuat diberikan Pemerintah India yang mulai melarang ekspor gandum dari negaranya ke luar negeri, sehingga akan menimbulkan konflik kebutuhan bahan pokok makanan termasuk minyak goreng global yang kian berkepanjangan di masa mendatang.
Sebagai informasi, pasokan minyak sawit (CPO dan PKO) dunia bergantung kepada Indonesia sebesar 55? lebih. Biasanya peningkatan kebutuhan tahunan minyak nabati global dapat terpenuhi dari minyak sawit, maka kondisi kedepan, pasar global akan terancam kekurangan pasokan minyak nabati terutama pasokan dari minyak sawit asal Indonesia. (T1)










