InfoSAWIT, JAKARTA – Harga minyak sawit di Bursa Berjangka Malaysia naik untuk sesi ketiga berturut-turut pada Kamis (2/6/2022), lantaran prospek produksi yang diprediksi menurun menyusul gagalnya Malaysia memperoleh tenaga kerja kebun sawit dari Indonesia, padahal kebutuhan tenaga kerja sawit di Malaysia sangat kritis.
Tercatat kontrak patokan minyak sawit FCPOc3 untuk pengiriman Agustus 2022 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,85% menjadi RM 6.410 (US$ 1.459,80) per ton di awal perdagangan.
Dikutip InfoSAWIT dari Reuters, pemerintah Indonesia membatalkan rencana mengirimkan tenaga kerja untuk di perkebunan kelapa sawit Malaysia, yang saat ini sedang menghadapi kekurangan tenaga kerja, demikian ungkap Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Malaysia Hermono, pada Selasa lalu.
Sementara, Malaysia Palm Oil Council (MPOC) menurunkan prospek produksinya pada hari Rabu untuk produsen terbesar minyak sawit kedua di dunia dan memprediksi harga minyak sawit untuk tetap di atas RM 6.000 (US$ 1.367,37) per ton tahun ini.
Lantas, India telah memangkas harga dasar impor minyak sawit mentah dan minyak sawit olahan, dilain pihak India menaikkan harga minyak kedelai mentah, kata pemerintah dalam sebuah pernyataan Selasa malam.
Kontrak kedelai teraktif Dalian DBYcv1 naik 0,14%, sedangkan kontrak minyak sawit DCPcv1 naik 1,03%. Harga kedelai di Chicago Board of Trade BOc2 turun 0,16%.
Analis Teknis Reuters, Wang Tao mencatat harga minyak kelapa sawit terlihat netral dalam kisaran RM 6.220 – RM 6.423 per ton. (T2)










