InfoSAWIT, MEDAN - Harga minyak goreng migor (curah) di berbagai provinsi di Indonesia, termasuk di Sumatera Utara, mengalami penurunan mendekati atau bahkan bisa lebih rendah dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 14.00//liter atau Rp 15.500/kg.
Apa yang terjadi pada harga migor curah memberikan pengaruh pada harga migor kemasan, baik sederhana maupun kemasan yang turun signifikan dari Rp 25.000 hingga ke Rp 29.000 per liter menjadi Rp 20.000 - Rp 23.000/liter.
Melihat tren positif ini, pengamat ekonomi sekaligus pengajar di sejumlah kampus ternama di Kota Medan, Gunawan Benjamin, meminta pemerintah untuk mengambil langkah yang tepat dan cermat.
"Misalnya untuk subsidi migor curah. Kan memang subsidi untuk migor curah sudah dicabut. Nah ke depan, saya berharap tidak ada lagi kebijakan subsidi lanjutan khusus untuk minyak goreng," kata Gunawan kepada InfoSAWIT, Selasa (7/6/2022) siang.
Sebab, kata dia, jika harga minyak goreng sudah bisa dikendalikan, maka subsidi sudah tidak diperlukan lagi.
Lagipula, ujar Gunawan, Penurunan harga minyak goreng tersebut justru sudah menepis kekhawatiran yang muncul sebelumnya yang menyebutkan bahwa pencabutan subsidi minyak goreng curah akan membuat harganya melambung.
Ia berharap penurunan harga minyak goreng curah iru bisa merata dan harga yang sama di semua pedagang pengecer.
"Jangan lagi ada gejolak harga migor seperti yang sudah-sudah," kata dia.
Kata dia, yang penting bagi pemerintah sebenarnya adalah menjaga momentum dan daya beli masyarakat, bukan memberikan subsidi migor terus-menerus.
Salah satu cara menjaga momentum daya beli masyarakat itu adalah dengan memberikan bantuan sosial agar masyarakat punya daya beli terhadap bahan pokok yang harganya terus mengalami kenaikan.
"Oke bantuan sosial tetap dikucurkan, tapi tidak untuk subsidi migor. Bansos harus dikucurkan seiring dengan pemulihan ekonomi yang melambat serta tingginya laju tekanan inflasi yang menekan daya beli masyarakat kita," kata dia. (T5)













