Berita Lintas
sawitbaik

Akibat Harga TBS Sawit Rendah, Petani Sawit di Sergai Tanam Ubi Kayu



Dok. Istimewa
Akibat Harga TBS Sawit Rendah, Petani Sawit di Sergai Tanam Ubi Kayu

InfoSAWIT, SERGAI -  Harga tandan buah segar (TBS) tak kunjung membaik dalam beberapa bulan terakhir ini. Padahal Presiden Joko Widodo telah mencabut kebijakan larangan ekspor produk turunan minyak sawit, sebuah kebijakan yang dituding oleh para petani sawit sebagai penyebab anjloknya harga TBS.

Di Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara, situasi tidak menentu yang terjadi pada harga TBS membuat petani sawit swadaya setempat bersikap mendua. Mereka mulai ragu bisa sejahtera melalui tanaman sawit.

"Saat ini para petani sawit swadaya mengalami keraguan untuk menanam kelapa sawit akibat naik turunnya harga. Bahkan, saat ini dikatakan ubi kayu lebih menguntungkan bagi para petani," kata Bupati Sergai, Darma Wijaya, Kamis (9/6/2022).

Bupati Darma Wijaya mengungkapkan hal tersebut di hadapan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki yang datang menemui para petani sawit di Kabupaten Sergai.

Saat itu hadir juga Ketua Koperasi Sawit Unggul Sejahtera Gus Dalhari Harahap dan ratusan petani sawit lainnya. Kehadiran Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki di Sergai terkait dengan rencana proyek pembangunan pabrik minyak goreng sawit merah di Sergai.

Bupati Darma Wijaya melanjutkan, harga sawit ini turun naik jadi membingungkan para petani.

"Maka kadang tanaman sawit mereka diselingi dengan tanaman ubi kayu. Hal yang dikhawatirkan adalah kalau harga ubi kayu lebih tinggi, petani kelapa sawit lebih pilih tanam ubi kayu saja," ucap Darma dalam keterangannya diperoleh InfoSAWIT, Jumat (10/6/2022).

Dengan rencana pembuatan pabrik minyak makan merah melalui koperasi, Darma menyatakan siap untuk menyediakan tempat bagi pembangunan pabrik ini di Kabupaten Serdang Bedagai.

Menteri Teten Masduki sendiri saat itu mengajak para petani sawit di Sergai untuk bergabung ke dalam koperasi dan membuat pabrik minyak makan merah agar bisa berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan minyak goreng dalam negeri.

"Kita perlu membangun koperasi sawit yang tidak bergantung kepada industri sehingga petani mendapat keuntungan dari hasil TBS," kata Teten Masduki.

Dengan begini, menurut MenKopUKM, para petani sawit akan mendapatkan nilai tambah dan mampu menerima manfaat dari pengelolaan bisnis sawit serta tidak memiliki ketergantungan terhadap industri kelapa sawit.

Ia menambahkan, saat ini teknologi untuk memproduksi minyak makan merah sendiri bahkan sudah ada di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan.

Karena pengolahannya yang sederhana, dia pun optimistis koperasi mampu membangun pabrik minyak makan merah ini. Biaya yang dibutuhkan juga dikatakan hanya memerlukan investasi sebesar Rp 7 miliar untuk menghasilkan 5 ton minyak makan merah per jam melalui teknologi tersebut.

"Dengan adanya pabrik minyak makan merah dari koperasi ini, diharapkan akan memperkuat pasokan minyak goreng ke masyarakat yang lebih murah dan sehat. Turunannya juga bisa jadi produk kosmetik, farmasi, dan masih banyak lainnya," kata Menteri Teten.

Terkait pembiayaan, MenKopUKM menegaskan bahwa koperasi dapat memanfaatkan dana dari BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit), PT Bank Rakyat Indonesia, dan LPDB-KUMKM (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) untuk membangun pabrik minyak makan merah ini.

Di tempat yang sama, Ketua Koperasi Sawit Unggul Sejahtera Gus Dalhari Harahap mengungkapkan total lahan sawit dari para petani di Kabupaten Serdang Bedagai mencapai 1.800 hektare. Menurutnya, para petani sawit sedang kebingungan akibat kondisi naik turunnya harga sawit akhir-akhir ini.

"Kami hanya punya harapan di sini. Jadi kami mendukung untuk kemandirian pangan. Wujudkanlah harapan dan cita cita kami dan semoga kedatangan Menteri Teten dapat menjadi jalan keluar untuk permasalahan ini," ucap Gus Harahap. (T5)