InfoSAWIT, JAKARTA - Lambannya proses sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi para pekebun sawit di Indonesia menjadi perhatian berbagai pihak, semisal Yayasan KEHATI, SPOS Indonesia, dan Koompasia Enviro Institute, menjadi pihak yang turut prihatin atas kondisi tersebut.
Menariknya, untuk mengatasi persoalan itu, tiga lembaga ini mengambil langkah yang tepat, yakni menggelar pelatihan pendampingan sertifikasi ISPO Pekebun di Hotel Santika Premiere Dyandra Medan.
"Pelatihan ini akan digelar hingga lima hari ke depan," kata Direktur Koompasia Enviro Institute, Henry Marpaung, saat menyampaikan kata sambutan dalam acara pelatihan tersebut, Senin (13/6/2022).
Lebih lanjut kata Henry Marpaung, terdapat 20 calon pendamping yang turut dalam pelatihan itu, dan semua berasal dari provinsi yang berbeda, baik dari Sumatera Utara, Sulawesi Barat, Kalimantan Barat, Bengkulu, dan lainnya.
"Pelatihan ini diharap bisa menembus kelambatan proses sertifikasi ISPO di kalangan pekebun," kata Henry.
Agar pelatihan berlangsung partisipatif, Henry juga menyebutkan para peserta pelatihan akan dibawa ke lapangan, bertemu langsung dengan para petani sawit yang tergabung dalam koperasi atau kelompok tani di sejumlah kabupaten sentra sawit di Sumatera Utara.
Direktur Program SPOS Indonesia, Irfan Bachtiar juga menyampaikan hal senada. Kata dia, proses sertifikasi ISPO harus bisa dilakukan secara massif dan berkualitas.
"Tidak bisa lagi proses sertifikasi ISPO itu hanya disasarkan ke kelompok tani atau koperasi petani sawit, melainkan harus melibatkan pihak-pihak yang memiliki kemampuan dan wewenang dalam percepatan ISPO, baik dari dinas maupun perusahaan," kata Ivan Bachtiar. (T5)













