InfoSAWIT, BANTEN – Pengembanan perkebunan kelapa sawit di provinsi Banten telah dilakukan semenjak tahun 1970-an, namun mulai berkembang tahun 1981 pada saat dicanangkannya perkebunan inti rakyat (PIRBUN), lantas pada 1990 berkembang secara besar-besaran.
Hingga tahun 2014 lalu telah terdapat 7.745 Hektar lahan kelapa sawit di Banten dengan produksi 10.133 Ton per tahun, menyerap tenaga kerja sektar 7.601 kepala keluarga. Dengan komposisi Perkebunan Besar Negara (PBN) Seluas 9.795 Hektar dangan produksi 17.254 Ton per tahun, sedangkan Perkebunan Besar swasta (PBS) seluas 20.261 Hektar dengan produksi 34.466 Ton per tahun.
Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Provinsi Banten sejatinya telah berjalan muali 2017 lalu namun belum memberikan dampak yang signifikan, terlebih konsep PSR ini diharapkan bukan hanya menggantikan pohon sawit yang lama dengan yang baru, tapi program PSR ini dapat menjadikan petani sawit ini naik kelas.
Sebab itu guna memastikan dan memudahkan proses pengecekan rencana dan progres pemetaan di Propinsi Banten, maka diadakan Focus Group Discussion (FGD) mengenai pemetaan kepada para petani kelapa sawit, yang nantinya dihasilkan peta dalam bentuk web sekaligus memuat data masing – masing lahan petani, sekaligus dalam acara ini juga dilakukan pengukuhkan DPD Apkasindo Banten Kabupaten Lebak Dan Pandeglang, pada 7 - 9 Juni 2022 lalu.
DPD Apkasindo Banten mencatat, saat ini meningkatkan derajat petani menjadi sangat penting. “Dalam arti selain meremajakan kelapa sawitnya sendiri tetapi juga dapat meningkatkan kemampuan kapasitas petani yang hanya bisa menjual Tandan Buah Segar (TBS) menjadi petani yang dapat mengolah hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) tersebut menjadi produk Crude Palm Oil (CPO),” demikian catat pihak DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Banten, dalam keterangannya diterima InfoSAWIT, Rabu (15/6/2022).
Sementara dari Informasi yang diperoleh InfoSAWIT, Focus Group Discussion ini membahas mengenai manfaat Unit wahana Drone dji (Drone yang digunakan untuk pengambilan data foto dan video yang bersifat panramik, dokumentasi dan aerial video) dalam bidang mapping dengan dasar fotogrametri. FGD dokumentasi dan aerial video) dalam bidang mapping dengan dasar fotogrametri. FGD diselenggarakan mulai dari perencanaan jalur terbang hingga penampilan hasil.
Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau lebih dikenal dengan istilah drone sudah banyak digunakan untuk kepentingan pemetaan pemetaan area yang biasanya susah dijangkau sehingga harus dilakukan dengan Helicopter atau bahkan foto satelit yang memerlukan biaya yang tinggi. Seringkali pemetaan atau pemotretan dengan satelit mungkin terkendala oleh cuaca dan jaraknya yang jauh sehingga menghasilkan biaya yang tidak sedikit.
Pemetaan menggunakan UAV ini dianggap lebih efisien dan efektif. Survey pemetaan mengunakan unit Drone membutuhkan ketepatan ini lebih efisien dan efektif. Saat ini sudah banyak beredar di pasaran berbagai alat pemetaan mulai dari yang manual sampai digital. Yang menjadi kendala di lapangan sesungguhnya bukan bagaimana menggunakan alat untuk mengambil data di lapangan, tetapi bagaimana mengolah data yang didapat di lapangan menjadi sebuah peta yang komunikatif. (T2)













