Berita Lintas
sawitbaik

Petani Sawit Di Bungo Berharap Pemerintah Perhatikan Nasib Mereka



Petani Sawit Di Bungo Berharap Pemerintah Perhatikan Nasib Mereka

InfoSAWIT, BUNGO – Tidak kunjung membaiknya harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit bagi petani sawit swadaya, telah berdampak pada perekonomian masyarakat. Sebab itu petani yang ada di Muara Bungo berharap pemerintah bisa benar-benar memperhatikan nasib petani sawit swadaya, terlebih bulan-bulan ini adalah saatnya masuk tahun ajaran baru yang tentu saja membutuhkan biaya tambahan bagi petani yang hendak menyekolahkan anaknya.

“Kami berharap pemerintah benar-benar memperhatikan nasib petani sawit swadaya,” kata Hidayat petani asal Kabupaten Muaro Bungo, Provinsi Jambi itu, kepada InfoSAWIT, Jumat (17/6/2022) pagi.

Sebelumnya Hidayat, tiga tahun lalu, bersemangat untuk mengganti sebagian kebun karet warisan orangtuanya untuk dijadikan kebun sawit. "Saat itu saya ganti tanaman karet saya menjadi sawit. Saya pakai bibit berkualitas. Saya rawat baik-baik sesuai saran petani sawit swadaya lainnya," cerita Hidayat.

Lalu, karena merasa yakin dengan prospek tanaman sawit, ia pun membuka lagi kebun sawit di Kabupaten Tebo. Kali ini ia beli lahan kosong beberapa hektar dari petani sawit lainnya untuk dijadikan kebun sawit.

Untuk tanaman sawit perdananya, petani sawit berusia 35 tahun ini mengakui sempat menikmati panen awal tandan buah segar (TBS) sawit dengan harga yang tinggi, berkisar Rp 3.000-an per kilogram.

Namun kini ia merasa heran, lantraran harga TBS sawit sudah berbulan-bulan tak kunjung membaik. Ia merasakan hal yang sangat pahit melihat kenyataan ini. "Enggak tahu bagaimana rasanya, mau dibilang trauma atau menyesal nanam sawit, toh ini pilihan saya," kata dia.

Anggota Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) Kabupaten Muaro Bungo ini  mengkritik sikap pemerintah yang tak kunjung bisa menyelesaikan persoalan minyak goreng sawit yang berimbas ke sektor kelapa sawit.

"Padahal tanah ya tanah saya sendiri, bibit sawit saya beli sendiri, begitu juga pupuk. Enggak ada duit pemerintah saya minta. Kok begini pemerintah," kata petani dari Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas ini.

Hidayat kini merasa tak berguna lagi memanen buah sawitnya. Sebab pihak RAM atau pabrik kelapa sawit (PKS) ada yang tutup atau membatasi pembelian TBS petani. Seharusnya Hidaya bakal melakukan panen buah sawit pada esok hari, Sabtu (18/6/2022).

"Tapi buat apa saya panen. RAM kirim kabar ke saya kalau mereka sudah tutup. Mau kirim ke PKS langsung, pun dibatasi. Baru dua atau tiga hari baru bisa masukan TBS kita ke PKS," kata Hidayat. (T5)