Hiruk pikuk politik nasional, nampaknya tak berpengaruh banyak terhadap keberlangsungan bisnis minyak sawit global dan nasional. Pasalnya, keberadaan bisnis minyak sawit masih saja mengikuti tren pasar internasional. Lantas bagaimana pertumbuhan bisnis kedepan?
Banyak kalangan mempertanyakan nasib bisnis minyak sawit ke depan, pasalnya keberadaan minyak sawit sebagai komoditas dunia, selalu berada di bawah bayang-bayang harga minyak bumi mentah global. Harga minyak bumi mentah yang terjun bebas hingga dibawah US$ 40/barrel, secara nyata berpengaruh terhadap keberadaan minyak sawit sebagai suplai bahan bakar minyak (BBM).
Jika, beberapa waktu lalu, isu minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, ikut menaikkan pamor harga minyak sawit. Namun kali ini berimbas negatif, merosotnya harga minyak sawit, sejalan dengan melorotnya harga minyak bumi mentah. Kendati tak berimbas banyak, lantaran minyak sawit, baru sebagian kecil digunakan sebagai bahan baku BBM. Sebagian besar, minyak sawit masih digunakan sebagai bahan baku minyak makanan dan non makanan.
Kegunaan sebagai minyak makanan, banyak dikenal sebagai minyak goreng maupun margarin dan specialty fats, berbahan baku minyak sawit mentah (CPO). Alasan utama digunakannya minyak sawit sebagai minyak makanan, sebab minyak sawit menyehatkan dan paling efisien.
Dan sebagai minyak non makanan, cpo banyak digunakan sebagai bahan baku pembantu (ingredient) dalam pembuatan sabun mandi, deterjen, kosmetik dan sabun pembersih lainnya. Tatkala, minyak nabati lainnya mengalami defisit suplai, maka cpo memegang peranan besar, sebagai bahan baku minyak nabati pengganti.
Sejatinya, mata rantai karbon terlengkap yang berada di dalam kandungan cpo dan pko tersebut, yang menjadikan minyak sawit selalu dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Berasal dari alam, maka minyak sawit merupakan bahan baku penolong yang paling aman digunakan untuk berbagai macam produk. Selain aman dikonsumsi, maka predikat halal dan kosher juga melekat secara alami.
Secara tren harga, maka . . .










