Berita Lintas
sawitbaik

Waduh Truk Angkut TBS Sawit Ampe Antri 6 Hari Nunggu di Pabrik Sawit



Waduh Truk Angkut TBS Sawit Ampe Antri 6 Hari Nunggu di Pabrik Sawit

InfoSAWIT, JAMBI - Banyak pabrik kelapa sawit (PKS) memilih sikap untuk tutup-buka guna membatasi penerimaan tandan buah segar (TBS) sawit dari pihak ketiga atau para penyuplai. Sikap ini dipilih lantaran para  pabrik kelapa sawit itu berhati-hati agar tangki timbun minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mereka tidak penuh.

"Pihak PKS bilang, mereka harus jual dulu CPO hasil dari pengolahan TBS sawit. Kalau laku, baru mereka buka pintu pabrik agar penyuplai TBS bisa masuk secara bergiliran. Kebijakan PKS ini membuat kami harus antri berhari-hari agar TBS kami bisa diterima PKS. Saya dan beberapa teman saja butuh enam hari agar TBS kami diterima. Padahal saya cuma ngantar satu truk saja, isinya cuma 8,5 ton TBS sawit. Saya antar Rabu pekan lalu dan baru bisa masuk ke pabrik Senin (20/6/2022)," kata A Fuadi Putra (26) kepada InfoSAWIT, Jumat (24/6/2022).

Petani sawit swadaya asal Desa Benteng Rendah, Kecamatan Mersam, Kabuoaten Batanghari, Provinsi Jambi, mengaku masih beruntung karena memiliki sendiri truk jenis Colt Diesel sehingga tak perlu mengeluarkan biaya sewa truk untuk angkut TBS sawit.

Dengan demikian, harga TBS sawit yang sangat rendah di sejumlah PKS di Kecamatan Mersam masih bisa dihemat, namun karena harus antri berhari-hari hanya untuk menjual TBS sawit atu truk, Fuadi tetap mengeluarkan biaya tambahan.

"Harga TBS kami waktu itu Rp 1.300/kg. Biaya ampra atau penngantaran TBS tetap ada, biaya panen juga. Lalu, karena antre berhari-hari, maka setiap hari kami keluarkan biaya ekstra untuk sarapan, makan siang, dan makan malam kami," kata Fuadi.

Fuadi menghitung, dari Rp 1.300/kg yang diterima dari PKS, pendapatan bersihnya setelah ptongan hanya didapat Rp 600 - Rp 700 per kg. Ia dan para petani sawit lainnya berharap agar pemerintah mempermudah ekspor CPO agar bisa mendongkrak penerimaan dan harga TBS petani sawit swadaya. (T5)