Berita Lintas
sawitbaik

Melorotnya Harga Minyak Sawit Diluar Perkiraan



Dok. InfoSAWIT
Melorotnya Harga Minyak Sawit Diluar Perkiraan

InfoSAWIT, KUALA LUMPUR  - Dalam laporan CGS-CIMB Securities Sdn Bhd, terjadinya penurunan harga minyak sawit mentah (CPO) berada dibawah level RM 5.000 per ton pada Rabu (22/6/2022) tidak diperkirakan, kajadian ini kemungkinan disebabkan oleh kekhawatiran pertumbuhan ekonomi global yang lebih lambat dan karena harga CPO mengikuti penurunan harga minyak mentah dan minyak nabati lainnya, menyusul mulai meningkatnya ekspor minyak sawit dari Indonesia.

Analis CGS-CIMB Ivy Ng Lee Fang dan Nagulan Ravi menulis dalam laporannya menyebut, kontrak harga minyak sawit di bursa berjangka dalam tiga bulan untuk pengiriman September 2022 turun RM 482/ton, atau terdapat penurunan sekitar 9,68%, menjadi RM 4.498/ton.

“Merupakam penurunan harian harga kontrak minyak sawit tertajam sejak Januari 2020," ujar analis CGS-CIMB tersebut.

Mereka mengatakan tren harga CPO yang menurun secara luas sejalan dengan ekspektasi CGS-CIMB berdasarkan perkiraan rata-rata harga CPO CGS-CIMB 2022 dan 2023 masing-masing RM 5.600 dan RM 3.800 per ton.

Asumsi CGS-CIMB adalah untuk harga CPO rata-rata sekitar RM5.000 per ton pada paruh kedua tahun 2022 (2H22) versus RM 6.391 per ton yang tercatat untuk lima bulan pertama tahun 2022, menurut mereka.

Namun, penurunan harga CPO yang terjadi pada Rabu (22/6/2022) lebih tajam dari yang diperkirakan, mungkin didorong oleh sentimen karena kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi global yang lebih lambat.

“Kami memperkirakan permintaan minyak sawit akan mendukung tingkat harga ke level RM 4.000-RM 5.000 per ton, lantaran stok minyak nabati di negara-negara konsumen tetap rendah akibat gangguan pasokan sebelumnya,” catat para analis seperti dilansir theedgemalaysia.

Sementara, isu yang harus diperhatikan adalah apakah produsen minyak sawit akan dapat memenuhi ekspektasi pasar,  lantaran mulai masuk panen kelapa sawit periode semester kedua yang lebih kuat, kendati Malaysia masih menghadapi kekurangan pekerja. Namun dengan stok minyak sawit yang tinggi di Indonesia telah berdampak pada pasokan minyak sawit.

Catat para analis, penurunan harga CPO kemungkinan akan lebih berdampak pada produsen minyak sawit hulu Malaysia dari pada produsen CPO Indonesia, karena di Malaysia menghadapi kenaikan biaya produksi yang lebih tajam serta penurunan harga CPO dibandingkan pada semester pertama di 2022.

Harga CPO di Bursa Berjangka Malaysia turun hampir 10% ditutup pada level terendahdalam  enam bulan pada hari Rabu (22 Juni 2022) lalu, mengikuti penurunan harga minyak mentah dan minyak nabati lainnya, serta isyarat adanya kekhawatiran atas meningkatnya ekspor minyak sawit dari Indonesia. (T2)