Berita Lintas
sawitbaik

Petani Sawit Swadaya Di Jambi Bersyukur, Harga TBS Sawitnya Naik Rp 300-500/Kg



Petani Sawit Swadaya Di Jambi Bersyukur, Harga TBS Sawitnya Naik Rp 300-500/Kg

InfoSAWIT, MERSAM - A.Fuadi Putra (26) berulangkali mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Petani sawit swadaya asal Desa Benteng Rendah, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi ini sedang bahagia lantaran mengetahui harga pembelian tandan buah segar (TBS) sawit mengalami kenaikan sekitar Rp 300 sampai Rp 500 per kg.

"Sejak Sabtu (25/6/2022) kemarin harga TBS sudah naik dari awalnya sekitar Rp 500 sampai Rp 700 per kg menjadi Rp 850 hingga Rp 1.050/kg. Bahkan hari ini ada pabrik yang berani terima buah sawit petani seharga Rp 1.300-an per kg," kata Fuadi Kepada InfoSAWIT, Senin (27/6/2022).

Kenaikan harga di PKS memicu kenaikan harga pembelian TBS sawit di tingkat RAMP atau toke sawit skala besar. Kata Fuadi, sejauh ini banyak RAMP di Kecamatan Mersam sudah berani menaikan harga TBS menjadi Rp 1.000/kg.

Kenaikan harga TBS ini, kata Fuadi, dipicu oleh sejumlah PKS yang awalnya kosong tanpa stok TBS sawit, lalu membuka diri menerima TBS sawit dari pihak penyuplai.

"Akhirnya para petani sawit atau penyuplai buah putar kepala, dari semula mengantre ke dua atau tiga PKS beralih ke PKS-PKS yang lagi kosong dan menerima TBS petani," kata Fuadi. Putar kepala yang dia maksud adalah pengalihan penjualan TBS ke PKS lainnya.

Akibatnya secara perlahan harga TBS sawit mengalami kenaikan karena jumlah pembeli mulai bertambah. Kata Fuadi, antrean truk di PKS pun kini sudah tak ada lagi.

"Saya saja sekarang ini mau ke kebun sawit saya lagi. Saya mau panen lagi, karena memang sudah saatnya panen. Harga TBS Rp 1.000/kg untuk sementara ini masih bisa  memberikan kita keuntungan sekitar Rp 500/kg, selebihnya biaya panen, angkut, dan transportasi. Syukur alhamdulilah atas perbaikan ini. Semoga harga TBS naik terus," tegas A. Fuadi Putra.

Sebelumnya ia menyebutkan banyak PKS memilih sikap untuk tutup-buka guna membatasi penerimaan TBS sawit dari pihak ketiga atau para penyuplai. Sikap ini dipilih lantaran para  pabrik kelapa sawit itu berhati-hati agar tangki timbun minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mereka tidak penuh.

"Pihak PKS bilang, mereka harus jual dulu CPO hasil dari pengolahan TBS sawit. Kalau laku, baru mereka buka pintu pabrik agar penyuplai TBS bisa masuk secara bergiliran. Kebijakan PKS ini membuat kami harus antri berhari-hari agar TBS kami bisa diterima PKS. Saya dan beberapa teman saja butuh enam hari agar TBS kami diterima. Padahal saya cuma ngantar satu truk saja, isinya cuma 8,5 ton TBS sawit. Saya antar Rabu pekan lalu dan baru bisa masuk ke pabrik Senin (20/6/2022)," kata A Fuadi Putra kala itu kepada InfoSAWIT, Jumat (24/6/2022). (T5)