InfoSAWIT, JAKARTA - Sebelum tahun 2022, devisa terbesar Indonesia diperoleh dari hasil ekspor produk turunan kelapa sawit. Sepanjang tahun 2021 saja devisa Indonesia dari sawit senilai US$ 35 miliar atau lebih Rp 500 triliun.
Kembali terbukanya keran ekspor sawit menjadi peluang bagi pelaku usaha skala besar, UMKM, petani, bahkan generasi muda untuk melakukan ekspor sawit dan produk turunannya.
Perlu dicatat bahwa potensi ekspor kelapa sawit tidak hanya terbuka untuk produk utama komoditas tersebut yang berupa minyak, tetapi sangat luas dalam bentuk produk turunannya.
Bahkan menariknya, limbah kering yang berupa tandan kosong , cangkang atau bungkil kelapa sawit serta limbah cair kelapa sawit memiliki nilai guna dan ekonomis yang sangat tinggi.
"Dulu, ekspor memang hanya bisa dijajaki oleh perusahaan besar. Tapi dengan digital, teman-teman [start-up] bisa punya peluang yang sama untuk mengakses pasar global," ujar Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Tofan Mahdi dalam acara Gelar Wicara Gensaw Corner pada akhir Juni 2022 lalu di Jakarta.
Tofan menjelaskan, sektor sawit memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Salah satu pertimbangannya ialah permintaan pasar global yang besar terhadap komoditas sawit.
Tofan kemudian menyarankan agar para pelaku perusahaan rintisan untuk menyasar akses pasar kecil, yakni negara-negara yang membutuhkan pasokan produk sawit namun belum terjangkau oleh swasta dan pemerintah.
"Cari peluang-peluang yang mikro atau individual, itu belum tergarap. Kalau perusahaan besar tidak bisa masuk ke situ, mestinya teman-teman skala UMKM bisa masuk," kata Tofan. (T5)













