Berita Lintas
sawitbaik

Tumpangsari Jagung Selamatkan Periuk Petani Peserta Program Peremajaan Sawit Rakyat



Tumpangsari Jagung Selamatkan Periuk Petani Peserta Program Peremajaan Sawit Rakyat

InfoSAWIT, SIMALUNGUN - Di tahun 2019, Marihot Butarbutar (59) dan para petani sawit swadaya di Kecamatan Hatonduan, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, mengikuti program peremajaan sawit rakyat (PSR). Mereka punya mimpi yang indah dengan iut PSR, berharap harga tandan buah segar (TBS) mengalami perbaikan.

Saat ini pihaknya memang belum bisa memanen sebab buah sawit mereka masih berstatus "buah pasir". Namun Marihot dan para petani lainnya tidak menyangka kalau hargaTBS sawit hingga saat ini terus anjlok.

"Namun sebelum kisruh harga TBS sawit ini muncul, kami sudah melakukan tumpangsari di kebun sawit kami. Saya dan para petani lainnya menanam jagung sejak awal tanam perdana sawit kami," kata anggota Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) Cabang Kabupaten Simalungun ini kepada InfoSAWIT, Senin (4/7/2022) siang.

Saat tanaman sawit belum bisa diharapkan memberikan penghasilan, Marihot dan kawan-kawan malah menikmati hasil panen jagung setiap empat bulan sekali selama beberapa tahun terakhir.

"Tapi kalau yang sekarang harga jagung agak anjlok. Kalau jagung kering dihargai sekitar Rp 4.000 per kilogram, kalau yang basah sekitar Rp 3.000 ke Rp 3.500 per kilogram," kata Marihot.

lebih lanjut kata dia, jika lahan sawit yang ikut program PSR luasnya sekitar empat hektar, dengan proses tumpangsari tanaman jagung, maka para petani sawit di Hatonduan bisa menikmati hasil panen jagung hingga Rp 20 juta.

Jika dikurangi berbagai biaya seperti pupuk, pembelian bibit, upah pekerja, dan lainnya, Marihot mengaku di awal-awal masih bisa menikmati keuntungan hingga sekitar Rp 10 juta.

"Tapi kalau sekarang paling bersih keuntungan saya ya sekitar Rp 5 juta. Sebab, selain pupuk mahal, ternyata saat ini harga jagung malah anjlok. Mungkin saat rotasi panen empat bulan lagi kami harapkan harga jagung bisa pulih," kata Marihot.

Kata Marihot, pilihan tumpangsari dengan tanaman jagung juga ternyata membuat mereka bisa meraat kebun sawit secara bersamaan. Sebab, pupuk yang diberikan untuk tanaman jagung juga dinikmati tanaman sawit.

"Sekali melakukan pemupukan, dua tanaman yang dirawat sekaligus, ha...ha..ha... Walau harga jagung sekarang lagi turun, tapi puji Tuhan kami bisa merawat tanaman sawit kami," tegas Marihot Butarbutar. (T5)