Berita Lintas
sawitbaik

MENYOAL TENAGA KERJA MEKANISASI JADI SOLUSI ALTERNATIF



MENYOAL TENAGA KERJA MEKANISASI JADI SOLUSI ALTERNATIF

Permasalahan pada perkebunan kelapa sawit seolah tak pernah tuntas, dari isu lingkungan, tenaga kerja, bahan bakar sampai lambatnya penemuan teknologi tepat guna. Alhasil yang jadi korban ialah tergerusnya daya saing nasional.

Sejak era tahun 2000-an, perkebunan kelapa sawit nasional terus bertumbuh, yang mana akhirnya, pada tahun 2006 silam, mampu mengungguli Malaysia sebagai produsen utama CPO di dunia.

Sayangnya, prestasi yang mampu diraih, tak membuat berbagai masalah di perkebunan kelapa sawit turut mengecil. Justru sebaliknya, terus bermunculan dan kian menggunung. Dari isu lingkungan yang dikibarkan para pegiat lingkungan, sampai upah tenaga kerja, hingga terus meningkatnya biaya agrochemical, bahan bakar dan sebagainya.

Kodisi demikian tentu saja berimplikasi negatif pada daya saing perkebunan kelapa sawit nasional. Apalagi, saat ini harga minyak sawit mentah masih tergerus, akibat implikasi dari melemahnya harga minyak mentah. Kondisi demikian semakin menekan daya saing perkebunan kelapa sawit nasional.

Terkereknya biaya produksi, jelas melemahkan kondisi daya saing perkebunan kelapa sawit nasional. Sayangnya perkembangan teknologi terapan di perkebunan kelapa sawit masih sangat lambat.

Padahal, industri kelapa sawit yang masuk dalam kategori industri padat karya butuh alternatif teknologi guna efisiensi, akibat terus meningkatnya investasi di perkebunan kelapa sawit. Tergambar dari terus meningkatnya biaya produksi di perkebunan kelapa sawit, utamanya berasal dari pupuk dan upah pekerja seperti pekerja panen, rawat dan lainnya.

Tingginya gap hasil produktivitas dibanding teoritis yang belum tercapai, menjadi pekerjaan rumah bersama, terutama saat ini menurut pemaparan Direktur Utama PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) Tbk., Daud Dharsono, perlu didorong riset untuk menemukan bahan tanaman yang bisa menghasilkan produktivitas tinggi. Terlebih potensi produktivitas kelapa sawit merujuk riset yang dilakukan Corley bisa mencapai 18 ton CPO/ha/tahun. Faktanya capaian produktivitas itu baru sekitar 4 ton CPO/ha/tahun.

Dalam pemaparan yang disampaikan Daud, pada Konferensi Pengembangan Industri Minyak Sawit-DMSI  (POIDEC), salah satu cara supaya daya saing perkebunan kelapa sawit nasional bisa terselamatkan, tidak lain ialah dengan menerapkan teknologi tepat guna dan mendapatkan bahan tanaman dengan produktivitas tinggi, sehingga efisiensi bisa tercapai.

Efisiensi ini mesti dilakukan, apalagi dari struktur biaya produksi CPO tercatat, biaya kebun sampai dengan panen menjadi komponen tertinggi, mencapai sekitar 51% dari total biaya produksi.

Dimana, pada biaya kebun itu komponen investasi pupuk mencapai 50%, pemeliharaan 19%, biaya panen 21% dan aplikasi pupuk sekitar 10%. Jelas komponen pupuk dan upah kebun menjadi yang tertinggi.

Kenyataannya yang tak terelakan pada investasi kebun, seperti tanah, mesin, dan lainnya terus meningkat setiap tahun, sementara perkembangan produktivitas tanaman tercatat lambat, sehingga biaya penyusutan menjadi naik.

Contohnya, . . .