Berita Lintas
sawitbaik

JANGAN SEPERTI NEGERI JIRAN



JANGAN SEPERTI NEGERI JIRAN

Selain isu lingkungan, isu tenaga kerja di sektor sawit pun tidak bisa dianggap remeh. Seperti Pemerintah  Malaysia, yang kini kesulitan dalam mendapatkan tenaga kerja. Hasilnya, memilih impor pekerja dan keuntungan bisnis CPO jadi terpangkas.

Pesatnya pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Malaysia, sayangnya tidak diikuti dengan pasokan tenaga kerja. Alhasil, saat ini Malaysia bergantung dari proses mekanisasi guna mengatasi sulitnya mendapatkan tenaga pekerja lapangan di perkebunan kelapa sawit.

Menyusul terus menyusutnya pekerja asal Indonesia di sektor perkebunan kelapa sawit. Merujuk informasi dari Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia, tahun 2013 lalu pekerja asal Indonesia untuk sektor perkebunan kelapa sawit Malaysia turun drastis menjadi hanya sebanyak 38 ribu orang, padahal sebelumnya bisa mencapai 120 ribu orang.

Kondisi demikian tentu saja berdampak negatif pada produktivitas perkebunan kelapa sawit di Malaysia, dimana sekitar 5% sampai 10% Tandan Buah Segar (TBS) sawit tidak terangkut dipanen, akibat kekurangan tenaga kerja. Efek domino dari kejadian ini  memangkas hasil keuntungan ekspor CPO Malaysia yang diprediksi tergerus sekitar RM 2,5 miliar (US$ 766 juta), setiap tahunnya.

Tahun 2013 silam, seperti ditulis Reuters, nilai ekspor CPO Malaysia tercatat turun menjadi RM 45,27 miliar (US$ 13,85 miliar), atau terendah semenjak 2010 silam dimana kala itu nilai ekspor nya mampu mencapai RM 52,99 miliar.

Kondisi demikian menuntut para pemilik perkebunan kelapa sawit di Malaysia dihadapkan pada pilihan sulit, meningkatkan upah pekerja, sebagai upaya mempertahankan para pekerja untuk tidak berhenti bekerja di perkebunan kelapa sawit.

Disaat yang bersamaan cara ini bakal memangkas keuntungan pengelola perkebunan kelapa sawit di Malaysia, atau terpaksa membiarkan sebagian buah sawit nya tidak terpanen dan dibiarkan membusuk. “Akibat terbatasnya pekerja, industri perkebunan kelapa sawit di Malaysia kehilangan miliaran ringgit,” tutur CEO United Plantations, Carl Bek-Nielson.

Menurut catatan Kedutaan Besar Indonesia untuk Malaysia, sekitar 550 ribu pekerja perkebunan asal Indonesia di Malaysia, sebanyak 95% berada di sektor perkebunan kelapa sawit. Sementara dari total pekerja di perkebunan kelapa sawit Malaysia, sekitar 80% berasal dari Indonesia, sisanya berasal rata-rata dari India.

Kendati tercatat tinggi upah pekerja perkebunan kelapa sawit di Malaysia, tidak membuat para pencari kerja tergiur masuk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Di Malaysia, rata-rata pekerja perkebunan kelapa sawit mendapatkan upah sekitar RM 900 (US$ 280) per bulan sampai sekitar RM 2000/bulan. Masih lebih tinggi dibanding upah di Indonesia. Hanya saja di Malaysia kebutuhan hidup tinggi, lantaran biaya fasilitas hidup dan kewajiban pajak yang tidak murah.

Namun dengan pertumbuhan ekonomi kuat di Indonesia yang mencapai 6% setiap tahun, dalam . . .