Berita Lintas
sawitbaik

MENJADI PETANI SAWIT PUN TIDAK MUDAH



MENJADI PETANI  SAWIT PUN TIDAK MUDAH

Beruntung, bagi sebagian petani yang telah memiliki perkebunan kelapa sawit sebagai sumber mata pencaharian. Lantaran masih ada banyak masyarakat yang mesti menunda keinginan memiliki kebun sawit akibat terganjal konflik.

Beruntung bagi Alpen M Surong (49), petani asal Desa Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Lantaran kini kehidupan pria asal Cempaga Hulu itu kian nampak membaik.

Sebelumnya Alpen M Surong adalah petani palawija dengan menanam sayuran terong, sementara istrinya seorang pegawai negeri sipil. Kala itu Alpen tidak memiliki rumah apalagi kebun. Sebab dirinya tinggal di kompleks perumahan PNS daerah setempat.

Akibat tidak ada perubahan ekonomi, tahun  1990 an Alpen pun bersepakat untuk membuka ladang di Desa Pundu. “Sebelumnya tidak ada yang mau garap lahan disini,” katanya, saat InfoSAWIT bertandang di rumahnya.

Bersama istri dan anaknya, Alpen pun terus berusaha, akhirnya lahan sekitar 8 ha, dibuka dan didaftarkan ke Desa. Pada awalnya Alpen berkebun karet tahun 2004 silam, sembari menanam sayuran untuk di jual ke pasar guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tatkala ada program Inti-Plasma, masuk ke Desa Pundu, Alpen pun mendaftarkan diri dan membuka kebun sawit yang bermitra lewat anak usaha Bumitama Gunajaya Agro Group, dilakukan semenjak tahun 2006 silam. Kini perkebunan kelapa sawit yang dimilikinya total seluas 5 ha, telah memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga. Bahkan tahun 2014 silam Alpen sedang memperluas bangunan rumah permanennya.

Bagi Alpen yang juga tercatat sebagai Bendahara Koperasi Sehati Pundu, dengan adanya kerjasama inti-plasma telah mengerek status sosial, yang sebelumnya tidak memiliki apa-apa kini telah memiliki pendapatan bersih sekitar Rp 3,5 juta per bulan. “Secara ekonomi sangat membantu,” katanya.

Keberhasilan Alpen M Surong, pun dirasakan oleh petani kelapa sawit lainnya, seperti yang dialami Sugiarto asal pulau Jawa. Perjuangan Sugiarto tidak semudah yang dibayangkan. Lantaran tatkala memutuskan untuk ikut program transmigrasi tahun 1990 an silam, Sugiarto dihadapkan pada kondisi yang cukup sulit.

Kendati di daerah yang baru, ia mendapat jatah lahan 1 kaveling (2 hektar) beserta jatah perumahan transmigran oleh pemerintah. Namun tidak serta merta nasib berubah. Di tempat yang baru, sarana dan prasarana masih amat minim. Sepanjang jalan dari rumahnya yang berbilik kayu ke jalan besar, kurang lebih sepanjang 18 km, masih berupa jalan tanah dengan ilalang yang bisa mencapai satu meter.

“Tapi keyakinan saya sudah kuat. Lagi pula di Jawa saya tidak punya apa-apa. Saat itu yang terpikir pokoknya merantau untuk mengubah nasib. Saya juga tidak tahu ke depannya seperti apa, mengingat di tempat ini masih hutan belukar,” kata Sugiarto mengenang.

Untuk bertahan hidup, Sugiarto menanam padi dan palawija. Ada petugas PPL dari pemerintah yang mendampingi bercocok tanam namun intensitasnya sangat jarang. Datang hanya sebulan atau dua bulan sekali. Keadaan itu diperparah dengan seringnya hama menyerang kebun petani yang menyebabkan petani kerap gagal panen.

Untungnya tahun 1995,. . .