Berita Lintas
sawitbaik

DR. IR. TUNGKOT SIPAYUNG, MEMASOK KEBUTUHAN MINYAK NABATI GLOBAL



DR. IR. TUNGKOT SIPAYUNG, MEMASOK KEBUTUHAN MINYAK NABATI GLOBAL

Sebagai industri nasional, industri minyak sawit merupakan industri strategis yang masih bisa berkembang dan lebih maju di masa depan. Pengelolaan secara sustainable, menjadi kunci utama, guna memasok kebutuhan minyak nabati global yang kian meningkat, seiring bertambahnya konsumsi masyarakat dunia.

Indonesia dikenal luas sebagai produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia. Sebagai produsen CPO terbesar, Indonesia masih memiliki banyak potensi untuk mengembangkan industri hilir minyak sawit di dalam negeri. Seperti, industri oleofood, oleokimia dan biofuel. Di sisi lain, ekspansi perkebunan kelapa sawit juga tetap masih dibutuhkan.

Kendati masih memiliki pekerjaan rumah besar, seperti meningkatkan produktivitas nasional. Namun, produktivitas minyak sawit masih jauh lebih baik, bila dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Wajar, bila minyak sawit diharapkan banyak pihak, mampu memenuhi permintaan pasar global yang selalu meningkat setiap tahunnya. Menurut Tungkot, peningkatan permintaan pasar global memerlukan kesiapan pasokan yang mumpuni dan hanya bisa didapat dari minyak sawit.

Mengutip Corley (2009), dalam artikelnya How Much Palm Oil Do We Need? yang telah di publikasikan dalam Journal Environmental & Policy, mengatakan kebutuhan minyak sawit dengan proyeksi tahun 2050. Proyeksi kebutuhan berdasarkan pertumbuhan rata-rata tingkat konsumsi perkapita minyak nabati global 25 kg/orang saja (estimasi medium), maka kebutuhan pasar global bakalan mencapai 240 juta ton.

Sebab itu, masih dibutuhkan pasokan minyak nabati baru sebesar 120 hingga 150 juta ton, dimana kebutuhan minyak nabati tersebut, kemungkinan besar dapat di suplai minyak sawit. 

Dengan asumsi produktivitas sebesar 4 ton/ha/tahun, Corley memperkirakan kebutuhan lahan baru perkebunan akan mencapai 28 juta ha. Besarnya kebutuhan luasan kebun baru tersebut, menjadi pertanyaan besar bagi banyak pihak. Sebab, besarnya kebutuhan lahan baru, tidak akan mudah didapat dari negara-negara maju.

Menurut Tungkot, dengan produktivitas mencapai 4 ton/ha/tahun atau lebih, hanya mungkin dapat dihasilkan melalui budidaya perkebunan kelapa sawit. Sebab itu, Indonesia memiliki peluang besar dan tantangan bagi pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia. “Ini menjadi peluang dan tantangan Indonesia kedepan,” ujar Tungkot menjelaskan.

Tidak hanya sekedar memenuhi permintaan pasar global, Indonesia memiliki kepentingan besar guna membangun ekonomi nasional berbasis pertanian seperti perkebunan. Pasalnya, keberhasilan pembangunan perkebunan kelapa sawit nasional, akan memberikan keuntungan lebih, bagi tumbuhnya industri hilir di dalam negeri.

“Industri minyak sawit nasional, memilik kemampuan memenuhi permintaan pasar global, dan berpeluang besar menjadi “raja” biodiesel, biopelumas, biosurfaktan, dan oleofood,” tandas Tungkot. Sebab, tidak ada industri minyak nabati lainnya, yang memiliki kemampuan produktivitas tinggi, sehingga paling efisien menggunakan lahan.

Imbuhnya, hanya minyak sawit yang mampu menyuplai kebutuhan minyak nabati dunia. Selain menyiapkan kebutuhan konsumsi pasar global akan CPO, industri sawit juga membutuhkan pengembangan industri hilir nasional. “Selain minyak sawit, apakah ada industri minyak nabati yang memiliki kemampuan memenuhi pasar internasional kedepan?” kata Tungkot.

Jika kebutuhan akan minyak nabati kian meninggi, sedangkan pasokan terbatas, maka di masa depan akan sangat berbahaya. Lantaran, harga minyak makanan dan non makanan yang berasal dari minyak nabati, akan mengalami kenaikan harga yang sangat besar, sejalan dengan adanya pertumbuhan konsumsi dari masyarakat internasional.

Potensi Besar Sawit

Perkebunan kelapa sawit sebagai industri hulu minyak nabati, memerlukan banyak dukungan dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Kesulitan terbesar pengembangan industri minyak sawit dewasa ini, menurut Tungkot, akibat tidak adanya strategi industrialisasi yang fokus. Akibatnya, hingga sekarang Indonesia belum memiliki industri unggulan dan belum dapat memanfaatkan pasar global.

Lebih lanjut, . . .