Perlu waktu sekitar tiga jam untuk bisa sampai ke salah satu anak usaha Bumitama Gunajaya Agro Group (BGA), PT Ladang Sawit Mas (LSM), atau berjarak sekitar 102 Km dari Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Itupun mesti melewati infrastruktur jalan yang kurang bagus, pasalnya masih terdapat jalan provinsi yang belum ditutup aspal, alias masih tanah.
Seperti kebun sawit baru lainnya, di areal konsesi PT LSM nampak deretan tanaman sawit yang masih muda, belum begitu rindang, karena penanaman baru dilakukan dua tahun silam. Karena masih baru, dalam pengembangannya dijumpai beberapa hal yang perlu ditingkatkan dan disempurnakan. Ini dilakukan dalam kerangka continuous improvement, yaitu perbaikan terus-menerus, yang dibantu oleh berbagai stakeholders dari perusahaan, termasuk diantaranya badan pemerintah dan NGO terkait isu keberlanjutan.
Dalam kaitan tersebut, standar pembukaan lahan yang dilakukan BGA Group pun telah mengadopsi penerapan penilaian Nilai Konservasi Tinggi (NKT). Cara ini digunakan untuk mengetahui lokasi atau kawasan yang mempunyai NKT, sekaligus untuk membuat perencanaan pengelolaan kawasan NKT dan kawasan konservasi lainnya.
Demikian jika saat penilaian dijumpai adanya satwa liar, maka perencanaan pengelolaan perlu dilakukan dengan menilai berbagai aspek. Salah satu diantaranya adalah studi Carrying Capacity di kawasan sekitar terkait orangutan, yang dilakukan oleh konsultan dari Universitas Tanjungpura bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat. Ini dilakukan untuk melihat ketersediaan ruang dan pakan bagi orangutan.
Sebagai upaya dalam menjaga dan melindungi . . .










