Berita Lintas
sawitbaik

BISNIS SAWIT KEMBANGKAN KEKUATAN NASIONAL



BISNIS SAWIT KEMBANGKAN  KEKUATAN  NASIONAL

Pertumbuhan industri minyak sawit, secara signifikan telah mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, keberadaan industri minyak sawit dari hulu hingga hilir, secara nyata telah membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan puluhan juta rakyat Indonesia.

Pesatnya pertumbuhan industri minyak sawit terutama berasal dari perkebunan kelapa sawit nasional. Jika, keberadaan perkebunan kelapa sawit pada tahun 1983 baru seluas 480 ribu hektar (ha), maka sepuluh tahun kemudian telah meningkat menjadi 1,613 juta ha. Tahun 2014 perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan mencapai 10,5 juta ha.

Kepemilikan perkebunan kelapa sawit berdasarkan data Kementerian Pertanian 2014, sebesar 49% atau 4,9 juta ha dimiliki perusahaan perkebunan swasta besar, seluas 690 ribu ha atau 6% dimiliki perusahaan perkebunan besar Negara dan 45% atau 4,5 juta ha dimiliki petani kelapa sawit.

Porsi kepemilikan petani yang cukup besar, merupakan modal tersendiri. Pasalnya, dengan meningkatnya kesejahteraan petani kelapa sawit, maka taraf hidup sebagian besar rakyat Indonesia secara signifikan ikut terangkat. Hal ini, sangat erat kaitannya, dengan keberadaan masyarakat Indonesia yang sebagian besar berprofesi sebagai petani di pedesaan.

Menurut Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Gamal Nasir, keberadaan perkebunan kelapa sawit milik petani perlu mendapatkan perhatian besar. Pasalnya, sebagian besar perkebunan kelapa sawit milik petani mempunyai persoalan besar produktivitas rendah. Sebab itu, replanting menjadi sangat penting guna meningkatkan produktivitas kebun sawit milik petani.

“Perkebunan kelapa sawit milik petani yang memiliki produktivitas rendah atau berumur lebih dari 25 tahun, harus segera dilakukan replanting,” kata Gamal menjelaskan. Lebih jauh, Gamal menyoroti peranan petani kelapa sawit yang terus berjuang sebagai petani kelapa sawit kendati menghadapi banyak tantangan seperti benih palsu dan sulitnya pembiayaan.

“Pola kemitraan bersama perusahaan, menjadi kunci sukses bagi perkebunan kelapa sawit milik petani yang ingin melakukan replanting,” kata Gamal, selanjutnya,”Transparansi pembiayaan yang dilakukan oleh Bank, juga memerlukan afiliasi seperti dunia usaha atau perusahaan perkebunan”.

Butuh Perusahaan Perkebunan

Keberadaan perusahaan perkebunan kelapa sawit, kerap tidak disukai sebagian orang. Pasalnya, perusahaan selalu melakukan aksi kerjanya melalui kegiatan korporasi yang terstruktur, sistematis dan berkelanjutan. Sehingga terkesan mengambil alih secara besar-besaran, akan hak dan kepemilikan dari masyarakat lokal.

Selain itu, perusahaan perkebunan juga didukung dengan afiliasi korporasi dan pendanaan yang kuat dalam melakukan aksinya. Alhasil, keberadaan perusahaan perkebunan di pelosok daerah, secara nyata akan membuka daerah terisolasi menjadi maju dan berkembang. Di sisi lain, pihak perbankan yang menjadi industri pendukung akan lebih mudah memberikan pendanaan sejalan dengan track-record korporasi perusahaan perkebunan tersebut.

Menurut Direktur Tanaman Tahunan, . . .