Berita Lintas
sawitbaik

POTENSI BESAR SAWIT NASIONAL GARAP INDUSTRI HILIR DAN ENERGI ALTERNATIF



POTENSI BESAR SAWIT NASIONAL GARAP INDUSTRI HILIR DAN ENERGI ALTERNATIF

Petensi besar yang dimiliki industri kelapa sawit nasional, tak hanya sekedar industri minyak sawit mentah (CPO) semata, melainkan bisa digarap lebih lanjut menjadi berbagai produk hilir. Tak hanya industri oleochemical dasar saja, melainkan hingga menjadi sumber energi alternatif.

Jika industri sawit nasional lebih dikenal sebagai industri pengekspor CPO terbesar di dunia. Beberapa tahun terakhir ini, industri sawit mulai berbenah diri. Pasalnya, keberadaan industri CPO diperkuat dengan keberadaan industri refineri yang mulai tersebar di berbagai provinsi yang sebelumnya masih mengandalkan dari provinsi lainnya.

Sebut saja wilayah Sulawesi, yang sebelumnya masih di suplai dari provinsi Jakarta dan Surabaya, saat ini telah dibangun refineri di wilayah Sulawesi Barat dan Utara dengan kapasitas produksi yang lumayan besar. Kekuatan baru ini, tentu saja mampu memberikan kekuatan besar bagi suplai minyak goreng di kawasan Indonesia timur.

Perkuat Industri CPO

Keberadaan industri yang masih butuh dukungan pemerintah tersebut, memerlukan regulasi yang mendukung operasi usaha supaya dapat berhasil. Jika keberadaan industri kian di perkuat, maka usaha minyak sawit akan bertambah baik. Pasalnya, kebutuhan pasar domestik yang dapat disuplai langsung, akan memperkuat keberadaan bisnis CPO di masa depan.

Kendati sebagian besar CPO masih berorientasi pasar ekspor, namun kebutuhan konsumsi domestik juga memerlukan perhatian dari para stakeholder bisnis minyak sawit. Menurut ketua umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (gapki) terpilih periode 2015-2018, Joko Supriyono, peluang pasar domestik sangat besar, lantaran isu energi seperti biodiesel, menjadi fokus pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla. “Mestinya biodiesel menjadi bagian dari program Bahan Bakar Nabati (BBN), kendati defisit sekitar US$ 1,6 miliar, minyak sawit mampu berkontribusi hingga sebesar US$ 20 miliar/tahun, sehingga mampu menopang pendapatan pemerintah,” ujar Joko menjelaskan.

Imbuhnya, keberadaan impor dapat dikurangi sejalan peningkatan ekspor ke berbagai manca negara, lantaran pengurangan impor akan berdampak terhadap pelambatan ekonomi, sehingga Gapki siap menjadi mitra pemerintah, dalam mendorong investasi di dalam negeri.

Prioritas ekspor Indonesia dapat terus dilakukan, guna mendapatkan manfaat dengan melakukan kerjasama perdagangan antar negara. Sebab itu, pemerintah perlu memiliki strategi perdagangan yang mumpuni, sehingga mampu bersaing antar negara lainnya.

Tahun 2014, . . .