Berita Lintas
sawitbaik

BISNIS CPO JATUH DAN TERTIMPA TANGGA



BISNIS CPO   JATUH DAN TERTIMPA TANGGA

Kabar tak sedap buat bisnis minyak sawit nasional, di akhir bulan Maret ini. Beredarnya kabar produk CPO dan turunannya bakalan terkena Bea Keluar (BK) lagi, ditambah akan berlanjutnya Inpres Moratorium pembukaan lahan baru. Ditengah krisis jatuhnya harga jual CPO dan turunannya, akan kah bisnis minyak sawit berkelanjutan?

Minyak sawit berkelanjutan yang telah di inisiasi stakeholder bisnis minyak sawit selama ini, seolah-olah hanya berfokus kepada lingkungan dan sosial semata. Padahal, keadaan bisnis minyak sawit selama hampir dua tahun belakangan, menghadapi persoalan besar. Seperti rendahnya harga jual yang cenderung menurun dan permintaan pasar yang mulai stagnan.

Rendahnya harga jual minyak sawit mentah (CPO), secara alami terus mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kendati harga jual CPO menurun, namun bisnis minyak sawit masih terbantu dengan terpuruknya nilai Rupiah. Alhasil, kondisi di dalam negeri, keuntungan masih dapat diraih perusahaan perkebunan dan industri turunannya.

Turunnya harga jual CPO, juga melanda harga jual produk turunannya. Lantaran, harga jual produk turunannya selalu mengikuti harga pembelian bahan baku dari CPO. Kendati, masih terdapat selisih waktu penurunan harga, namun secara nyata dirasakan pengusaha turunan CPO, akibat rendahnya harga jual CPO, maka harga produk turunan dari CPO juga ikut melandai.

Akibatnya, keberadaan bisnis minyak sawit mengalami banyak persoalan. Kendala terbesar datang dari kewajiban membayar hutang perusahaan yang bernilai Dollar. Lantaran, kewajiban membayar hutang dan biaya operasional untuk ekspor bernilai Dollar menjadi lebih mahal, akibat turunnya nilai Rupiah. Berbagai persoalan lanjutan kemudian, turut pula menambah beban, seperti keberadaan investasi baru dan berbagai ekspansi bisnis yang banyak tertunda.

Lantaran kewajiban usaha minyak sawit kian memberat, maka keberadaan bisnis minyak sawit secara umum juga mulai merayap. Alhasil, keberadaan bisnis minyak sawit terancam gagal berkelanjutan. Terlebih, keberadaan pasar ekspor juga mengalami kejenuhan. Pasalnya, tujuan ekspor CPO hanya melulu menuju ke beberapa negara saja.

Rendahnya harga jual CPO dan terbatasnya tujuan pasar ekspor, menjadi pemicu utama melesunya harga jual CPO dan turunannya. Ke depan, diperlukan terobosan baru dan inisiatif bisnis yang di dukung kebijakan pemerintah, guna mendorong keberadaan bisnis CPO dan turunannya di pasar internasional. 

Terancam Regulasi

Berbagai persoalan bisnis minyak sawit, baru bisa teratasi dengan baik, bila mendapat dukungan penuh dari Pemerintah melalui regulasi yang mendukung. Namun, kenyataan pahit harus kembali ditelan pelaku usaha minyak sawit dan turunannya.

Pasalnya, . . .