Berita Lintas
sawitbaik

DR. HASRIL HASAN SIREGAR, JADIKAN PRODUKTIVITAS KEBUN RAKYAT LEBIH UNGGUL



DR. HASRIL HASAN SIREGAR,  JADIKAN PRODUKTIVITAS  KEBUN RAKYAT LEBIH UNGGUL

Kendati berubah menjadi korporasi berbasis riset di lingkup perusahaan negara, di bawah Riset Perkebunan Nusantara, kini PPKS masih terus konsen mendukung pemberdayaan petani melalui peningkatan produktivitas.

Usia perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang sudah 100 tahun lebih, menyisakan banyak peristiwa, kenangan dalam sejarah. Salah satunya, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang cikal bakalnya bernama Algemeene Proefstation der AVROS (1916), kemudian menjadi Research Institute of The Sumatra Planters Association (RISPA) yang digabung dengan Pusat Penelitian MARIHAT dan BANDAR KUALA di Sumatera Utara.

Hampir semua pelaku usaha perkebunan kelapa sawit mengenal PPKS, pasalnya, keberadaan PPKS sudah sejak jaman penjajahan dikenal sebagai lembaga riset yang konsen kepada penelitian, pelayanan dan pendampingan untuk perkebunan khususnya kelapa sawit. Semua hal yang berhubungan dengan kelapa sawit, tentu menjadi perhatian ataupun penelitian PPKS.

Bermula dari benih unggul, budidaya terapan, tanah, konservasi, lingkungan, keragaman hayati hingga produk hilir, dan sebagainya, terus menjadi konsen berbagai penelitian yang dilakukan setiap harinya. Wajar, bila kemudian PPKS dikenal sebagai wadah peneliti handal kelapa sawit di Indonesia maupun dunia.

PPKS di tahun 2015 ini, sejalan dengan waktu juga memiliki wajah baru. Proses regenerasi kepemimpinan internal, menempatkan sosok Hasril Hasan Siregar, sebagai Direktur PPKS sejak Januari 2015. Dikenal akrab dengan panggilan Hasril, merupakan sosok yang tak asing di PPKS. Sebelumnya, Hasril telah memikul tanggung jawab selaku Kepala Biro Umum dan SDM, periode 2007 hingga 2014 lalu.

Komitmen, loyalitas, kejujuran dan kerja keras Hasril yang mumpuni sebagai karyawan dan peneliti PPKS, turut menghantarkan sosok Hasril sebagai Direktur PPKS dewasa ini. Menurut Hasril, posisi direktur yang diembannya merupakan amanah yang harus dijaga dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, penuh tanggung jawab dan sebaik-baiknya.

Pria kelahiran Pematang Siantar tahun 1963 silam ini, menuturkan keberadaan PPKS yang selalu eksis mengembangkan industri minyak sawit dari hulu hingga hilir. “PPKS sejak dahulu hingga sekarang, selalu konsen melakukan berbagai penelitian kelapa sawit dari hulu hingga hilir,” ujar Hasril menjelaskan.

Menurutnya, keberadaan industri kelapa sawit nasional, tak bisa lepas dari keberadaan PPKS yang selalu menekuni penelitian kelapa sawit. Seperti benih unggul kelapa sawit, yang dihasilkan PPKS, sudah dikenal luas masyarakat. Keberhasilan produk hasil penelitian terutama benih unggul PPKS ini juga turut menghantarkan Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit mentah (CPO) di dunia.

Hasril mengakui, perkebunan kelapa sawit di Indonesia, memang masih memiliki berbagai kendala. Seperti keberadaan perkebunan kelapa sawit sebagian besar milik petani dan sebagian perusahaan, yang masih rendah produktivitasnya. Lantaran, maraknya sebaran benih kelapa sawit palsu, yang telah banyak beredar di masyarakat. Ketika benih palsu ditanam, maka kerugian petani akan terus menerus terjadi.

Sebab itu, menurut Hasril, pemerintah perlu mengambil tindakan tegas, guna memutus mata rantai peredaran benih palsu. “Pemerintah melalui pihak yang berwajib, perlu mengambil tindakan tegas, supaya penyebaran benih palsu tidak terus menerus terjadi,” kata Hasril menegaskan.

PPKS Konsen Tingkatkan Produktivitas

Sebagai lembaga yang berfokus kepada penelitian kelapa sawit, PPKS menurut Hasril berkomitmen turut mendukung keberadaan pemerintah. Melalui berbagai program aksi kepedulian, PPKS melakukan pendidikan/penyuluhan, pelayanan dan pendampingan secara berkesinambungan kepada masyarakat.  “Pembangunan perkebunan kelapa sawit, harus dilakukan dengan budidaya terbaik dan berkelanjutan (sustainable) dimulai dari penggunaan benih unggul yang akan mendukung keberhasilan perkebunan kelapa sawit milik petani,” tandas Hasril.

Melalui program sawit untuk rakyat (PROWITRA), .  .