Berita Lintas
sawitbaik

INFO CWE : PERBANDINGAN METODE STAPLECARD DAN GPS



INFO CWE : PERBANDINGAN METODE STAPLECARD DAN GPS

Sensus Pokok Sawit Pada TM I  (Studi kasus di PT Citra Sawit Lestari, Kalimantan Utara)

Guna memperoleh data tanaman yang akurat sesuai dengan kondisi real di lapangan perlu dilakukan kegiatan sensus pokok secara teliti. Caranya bisa menggunakan Metode Staplecard atau GPS, manakah yang lebih akurat serta efisien?

Menurut Sasongko (2010), keberhasilan budidaya suatu jenis komoditas tergantung pada kultivar tanaman, lingkungan tempat tumbuh tanaman serta pengelolaan yang dilakukan. Selain itu, produktivitas suatu komoditas termasuk kelapa sawit juga dapat dipengaruhi oleh jumlah tegakan tanaman per hektar  (Stand Per Hectare / SPH). Jumlah tegakan tanaman per hektar dipengaruhi oleh pola tanam dan jarak tanam antar pokok.

Umumnya posisi tanam menggunakan pola tanam segitiga sama sisi (mata lima), sehingga hara, air tanah dan penyinaran matahari dapat terdistribusi merata ke semua tanaman. Jarak tanam ditentukan oleh jenis bibit yang ditanam, kondisi lahan serta model budidaya (Nuryanto, 2011). Namun, walaupun telah ditanam dengan pola dan jarak yang ditentukan, sering kali produksi tanaman kelapa sawit per hektar tidak maksimal.

Tidak tercapainya potensi produksi tersebut salah satunya akibat tanaman yang ada dalam suatu luasan tidak seluruhnya merupakan pokok yang produktif, tetapi ada kemungkinan pokok tersebut adalah pokok abnormal, mati bahkan kosong (tidak terdapat tanaman). Oleh karena itu, biasanya dilakukan kegiatan penyisipan terhadap pokok non produktif maupun titik kosong yang dilaksanakan berdasarkan hasil kegiatan sensus pokok.

Guna mendapatkan data tanaman yang akurat sesuai dengan kondisi real di lapangan, perlu dilakukan kegiatan sensus pokok secara teliti (SOP Asian Agri, 2004). Pada umumnya hasil kegiatan sensus pokok menggunakan form blangko sensus (staplecard). Namun data yang dihasilkan sering kali tidak akurat. Hal ini lebih diperburuk oleh kenyataan bahwa tidak semua pokok kelapa sawit yang tertanam di lapangan ditanam sesuai dengan pola jarak tanam yang ditentukan yaitu segitiga sama sisi (mata lima) seperti yang tertera pada staplecard.

Sebagai upaya untuk menghasilkan data tanaman yang lebih akurat, digunakanlah GPS (Global Positioning System) sebagai alat sensus. Marito (2008) menyebutkan bahwa GPS merupakan sistem untuk menentukan posisi dan navigasi secara global dengan satelit. Oleh karena itulah, perlu dilakukan suatu kajian mengenai perbandingan metode sensus pokok menggunakan staplecard dan menggunakan GPS pada tanaman menghasilkan pertama.

Sensus Pokok Menggunakan Staplecard

Pada kegiatan sensus pokok dengan metode Staplecard dimulai dari arah Selatan ke Utara dari blok yang menjadi sampel. Petugas sensus langsung mendata dua jalur tanaman sekaligus melalui pasar pikul. Setelah selesai disatu pasar pikul, sensus dilanjutkan ke pasar pikul selanjutnya ke arah timur dari blok yang menjadi sampel. Kondisi tanaman yang didata yaitu tanaman hidup (normal), sisip, mati, abnormal serta titik kosong.

Sensus Pokok Menggunakan GPS

Mekanisme pelaksanaan sensus pokok menggunakan GPS tidak berbeda . . .