Berita Lintas
sawitbaik

MORATORIUM, MENGANCAM HIDUP PETANI



MORATORIUM,  MENGANCAM HIDUP PETANI

Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global, terus mengalami fluktuasi harga setiap minggunya. Kendati CPO dalam harga Dollar mengalami penurunan, sebaliknya dalam bentuk Rupiah, CPO kian menarik di mata investor domestik. Terlebih, keperkasaan CPO kian memikat perhatian banyak petani di berbagai penjuru Tanah Air.

Seperti yang dituturkan seorang petani kepada InfoSAWIT beberapa waktu lalu, di daerah Kutai Timur, kalimantan Timur. Petani yang bernama Sutikno (51), menceritakan keberadaanya di daerah Kutai Timur, berawal dari ikut keluarga kakaknya yang merantau sebagai petani PIR Trans tahun 1986 silam. Menurut Sutikno, semula keberadaan sebagian besar petani di wilayah tersebut sangat sulit akibat rendahnya pendapatan.

Namun, situasi tak beruntung sekejap berubah, tatkala ada perusahaan perkebunan kelapa sawit masuk ke wilayah tersebut tahun 2000 silam. Lantaran, tak punya pekerjaan tetap, Sutikno memberanikan diri untuk mendaftar sebagai peserta petani plasma. Langkah Sutikno, pula diikuti beberapa penduduk desa yang sebagian besar merupakan perantau dari daerah Jawa.

Alhasil, secara perlahan, kehidupan Sutikno mulai berubah. Pasalnya, sebagai petani kelapa sawit, Sutikno mendapatkan bantuan benih, pupuk hingga bimbingan budidaya secara berkelanjutan dari perusahaan kelapa sawit. Awalnya, Sutikno tidak mengerti budidaya kelapa sawit, namun sekarang, sangat paham dan memiliki ratusan hektar kebun sawit di wilayah tersebut.

Pendapatan Sutikno terbilang luar biasa, memiliki lahan plasma yang sudah ditanam sejak 2001, dari lahan seluas 4 hektar yang dimilikinya tersebut, Sutikno mendapatkan penghasilan sebesar Rp 8 juta/bulan. Ditambah, perkebunan kelapa sawit yang dikelola sendiri seluas 80 hektar, Sutikno mampu menghasilkan pendapatan kotor tambahan mencapai Rp 180 juta/bulan.

Besarnya pendapatan Sutikno, tentu saja merupakan hasil kerja keras yang dilakoninya sejak tahun 2000 sebagai petani plasma. Kegigihan dan pantang menyerah yang dilakukannya, menjadikan dirinya berhasil mendapatkan penghasilan yang luar biasa besar. Bisa dibilang, bermodalkan egrek, Sutikno mampu menghasilkan ratusan juta rupiah dalam sebulan.

Kehidupan Sutikno, di Kalimantan Timur, tentunya merupakan representasi dari Indonesia wilayah timur, yang berhasil berjuang sebagai petani kelapa sawit. Kisahnya, tentu saja melengkapi keberhasilan petani kelapa sawit di Indonesia, yang semula hanya berada di wilayah Sumatera. Kini, secara merata, hampir terjadi di seluruh daerah penjuru nusantara yang memiliki perkebunan kelapa sawit.

Jika dahulu, Sutikno sebagai adik dari petani PIR-Trans yang menghasilkan kelapa namun sulit menjualnya. Kini, Sutikno mendapatkan berbagai fasilitas untuk menanam kelapa sawit dengan hasil yang sudah pasti pula diserap perusahaan mitranya.

Mitra Petani

Berbagai kesulitan para petani PIR Trans, memang  . . .