Berita Lintas
sawitbaik

BENIH UNGGUL SAWIT JADI PILIHAN



BENIH UNGGUL SAWIT JADI PILIHAN

Senyum sumringah banyak menghiasi wajah petani kelapa sawit yang telah memiliki kebun kelapa sawit dengan produktivitas yang tinggi. Merekahnya senyum nan manis tersebut, dilakukan sebagai sukacita atas hasil kebun kelapa sawit mereka yang mampu menghasilkan buah cepat dengan hasil produksi maksimal

Dalam sebuah pertemuan antara petani dengan Kementerian Pertanian dan perusahaan perkebunan kelapa sawit beberapa waktu silam, terungkap cerita sedih dari petani kelapa sawit yang tak kunjung berhasil berkebun. Kebun yang sudah dikelola sejak 5 tahun silam, hingga kini tak kunjung berbuah sawit. Sedangkan, kebun milik tetangga disebelahnya, yang baru saja berusia 2,5 tahun, sudah mulai berbuah.

Petani kelapa sawit yang bernama Bejo (45 tahun), sangat bersedih hati, lantaran merasa sudah bekerja keras membangun kebun sawit miliknya selama 5 tahun lebih. Namun, pohon kelapa sawit yang ditanamnya tak kunjung menghasilkan buah yang sangat diharapkannya. Senyum kecut yang menghiasi wajahnya, menggambarkan kepahitan hidup yang harus dilakoninya selama mengharapkan hasil panen yang tak kunjung tiba.

Cerita Bejo menjadi suatu gambaran, dari ratusan bahkan ribuan petani kelapa sawit di Indonesia, yang hingga dewasa ini masih terjebak dalam penantian buah sawit dari pohon yang sudah lama ditanamnya. Sejatinya, cerita Bejo juga menjadi jawaban dari banyaknya pertanyaan akan produktivitas rendah yang dihasilkan petani kelapa sawit nasional.

Jika, pohon kelapa sawit tak kunjung berbuah atau menghasilkan produktivitas rendah, maka biasanya pertanyaan awal dan sederhana, yang akan ditanyakan adalah: berasal dari mana benih sawit yang ditanam? Sebagian besar, biasanya akan menjawab, dari teman atau seseorang yang mengedarkan benih sawit dengan kemasan sederhana plastik tanpa merk.

Ada pula yang . . .