Menjadi petani sawit terkadang butuh kesabaran, sebab tidak sedikit petani yang menjual kebun sawitnya akibat tidak tahan. Kini kebun sawit skim kemitraan petani swadaya telah berbuah, untungpun siap diunduh.
Saat ini banyak cerita bahwa dengan berkebun sawit bisa mendatangkan fulus jutaan rupiah. Bahkan tidak sedikit petani sawit yang terkadang menjelma sebagai OKB alias orang kaya baru.
Kejadian itu, nampak maklum untuk sejumlah daerah di sentra-sentra perkebunan kelapa sawit. Desa yang sebelumya senyap dari akivitas ekonomi, kini mulai tumbuh dan menjelma menjadi desa yang maju.
Perputaran uang di desa pun tidak sedikit jumlahnya, terkadang ada desa dengan perputaran uang hingga mencapai Rp 157 miliar per tahun. Jelas kemajuan desa itu tidak lain akibat bertumbuhnya perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh para petani.
Akibat pemerintah daerah dan perusahaan perkebunan kelapa sawit turut andil dalam membina petani sawadaya, produktivitas perkebunan kelapa sawit petani yang kabarnya rendah bisa digenjot, otomatis produksi melonjak dan nilai pendapatan petani pun kian melesat naik.
Itu kondisi saat ini, sebelumnya siapa sangka berkebun sawit bakal mendatangkan pendapatan yang tinggi. Kabarnya di sekitar Kecamatan Kongbeng dan Kecamatan Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur, orang disuruh berkebun sawit sangat sulit.
Tahun 2000-an banyak masyarakat menganggap sawit tidak bisa memberikan penghasilan yang mapan, jadi tidak heran tatkala diberikan bantuan bibit sawit cuma-cuma kerjasama antara Pemerintah Daerah Kutai Timur dan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) Tbk., selaku pihak yang menyediakan bibit unggul sawit bersertifikat, lewat anak usahanya PT Kresna Duta Agroindo, banyak petani yang ogah untuk menanam sawit.
Cerita Isran Noor, kala masih menjabat sebagai Bupati Kutai Timur, banyak masyarakat tidak mempedulikan bibit sawit yang dibagikan ke petani. Bahkan ada yang menaruh bibit sawit itu tergeletak di pinggir jalan begitu saja atau di taruh di belakang rumah. “Dulu kita bagi-bagi bibit sawit, namun banyak yang ditaruh di belakang rumah ketimbang di tanam di lahan mereka,” kata Isran kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Kongbeng.
Kendati ada sebagian petani yang juga mau menanamnya, walaupun sedikit terpaksa seperti yang dilakukan Sutikno, petani sawit swadaya anggota Koperasi Perkebunan (Kopbun) Kongbeng Bersatu.
Lantaran sudah membuka toko kelontong dengan untung menggunung, menanam sawit pun hanya menjadi pilihan kedua. Lantaran belum fokus mengembangkan kebun sawit, Sutikno kerap menyerahkan perawatan kebun sawitnya ke orang lain.
Lantaran dianggap orang mampu, Sutikno pun kerap mendapat tawaran lahan, maka wajar bila lahan sawit Sutikno terus bertambah. “Sampai tahun 2001 kebun sawit saya sekitar 12 ha,” katanya kepada InfoSAWIT, di Kongbeng belum lama ini.
Itu dulu, kini Sutikno tidak lagi. . . .










