MEDAN - Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Enny Ratnaningtyas memaparkan, terdapat delapan kendala dalam mengembangkan industri hilir nasional, diantaranya infrastruktur belum tersedia dengan memadai, meliputi pelabuhan, jalan akses, rel kereta api, tangki timbun, pompa/pipanisasi, pasokan listrik, gas bumi dan sebagainya.
Kemudian, kawasan industri yang tersedia di sentra produksi utama minyak kelapa sawit belum dapat memberikan pelayanan operasional industri pengolahan curah air terinntegrasi. lantas, integrasi rantai nilai industri hulu-hilir belum berjalan dengan baik.
Ketergantungan pada penyediaan teknologi industri, inovasi formulasi produk oleofood/oleokimia, dan rancang bangun permesinan dari lisensor luar negeri. Belum memadainya penyediaan sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang berdedikasi tinggi untuk industri perkelapasawitan hulu-hilir, khususnya di pusat pertumbuhan industri hilir kelapa sawit.
Kemudian, kebijakan peningkatan penggunaan biodiesel di dalam negeri masih terkendala iklim usaha dan tata niaga yang belum menjaminn kontinuitas proses produksi biodiesel. Debottlenecking administrasi penanaman modal, fasilitas investasi, peraturan perpajakan dan kepabeanan. Serta yang terakhir, adanya kampanye negatif di lingkup perdagangan internasional yang menyebabkan disrupsi pasar.
"Ini tantangan yang sangat berdampak, bukan hanya di setiap provinsi penghasil produksi kelapa sawit seperti Sumut tetapi juga secara nasional," ungkap Enny kepada MedanBisnis, Rabu (20/5) di Medan. (T2)










