AMSTERDAM – Keberadaan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) perlahan tapi pasti mulai diperhitungkan dunia, apalagi dilihat sebagai bagian jawaban dalam komitmen industri minyak sawit menerapkan praktik berkelanjutan.
RSPO Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) logo yang akan disematkan pada produk pengguna minyak sawit berkelanjutan ditargetkan akan mampu menyerap pasar 100% CSPO di Eropa pada tahun 2020, 50% di Indonesia dan Malaysia, 30% di India dan 10% di China.
Oleh karena itu, kata Chairperson RSPO yang berasal dari Unilever, Biswaranjan Sen, organisasinya harus berubah seiring perkembangan industri minyak sawit. “Waktu berubah. Peserta ruang ini, ada lagi yang akan datang. Jika kita tidak berubah, RSPO akan tertinggal,” ujarnya dalam sambutan konferensi di Amsterdam.
Kredibilitas dan keberlanjutan yang tinggi akan menjadi fokus utama RSPO kedepan, sekaligus sebagai metodologi yang kuat untuk menyeimbangkan perlindungan hutan dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat setempat.
Untuk memenuhi tantangan kredibilitas, Biswaranjan Sen menekankan bahwa RSPO akan mengambil langkah-langkah serius untuk menangguhkan atau mengusir anggota non-compliant awal tahun ini, dan telah dirubah panel pengaduannya.
Lanjutnya ia menjelaskan, sinyal positif lainnya datang ketika Juru Kampanye Hutan Greenpeace, Annisa Rahmawati, mengatakan dia memberi penilaian rata RSPO 7/10 ketika ditanya tentang potensi RSPO untuk memenuhi tantangan keberlanjutan. Selain itu, Greenpeace yang dikenal sebagai LSM yang kritis, juga menjelaskan bahwa mereka tidak mendukung boikot Palm Oil. (T3)










