Berita Lintas
sawitbaik

HARGA MIRIS, INDUSTRI SAWIT KRITIS?



HARGA MIRIS,  INDUSTRI SAWIT KRITIS?

Melemahnya harga minyak sawit mentah (CPO) semenjak pertengahan tahun 2014 hingga kini, ternyata telah menekan industri sawit nasional. Apakah ini pertanda industri sawit masuk situasi krisis, lantas apakah harga pula bakal kembali meningkat?

Diakui atau tidak banyak pelaku berharap-harap cemas terhadap industri sawit nasional untuk tahun ini, sebab tanda-tanda harga CPO dunia bisa kembali melonjak belum juga nampak terlihat.

Melemahnya harga CPO yang terus terjadi, diakui telah memukul kinerja perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional, yang pada kuartal I-2015 tercatat rata-rata anjlok.  Alasannya pun hampir dikataan seragam, akibat harga CPO yang kurang kinclong. Sehingga memangkas pendapatan perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional.

Apakah kemudian tekanan harga ini bakal menggerus perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional? Jawabannya bisa iya bisa juga tidak, lantaran menurut Menteri Pertanian era Megawati, Bungaran Saragih, tekanan harga memang sedang terjadi saat ini, hasilnya banyak perusahaan sawit yang menghadapi kesulitan dalam pengembangan areal perkebunannya.

Hanya saja, kata Bungaran yang juga sebagai komisaris di beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional, menganggap kondisi saat ini tidak perlu dicemaskan, lantaran perusahaan sawit dipastikan bisa terus melakukan pengembangannya tanpa kendala, hanya saja syaratnya mesti menerapkan operasi perusahaan dengan sangat efisien.

Dari penilaian Bungaran, ongkos produksi kelapa sawit yang sangat efisien ialah ongkos produksi CPO pada kisaran US$ 200 hingga US$ 300 per ton. Dengan tingkat ongkos produksi yang efisien tersebut kendati harga CPO berada dikisaran US$ 600/ton, perusahaan masih memiliki marjin untuk  bisa melakukan pengembangan.

Lain halnya bila perusahaan yang menerapkan operasi perkebunan dengan tidak efisien, biasanya ongkos produksi CPO nya bisa mencapai US$ 400 hingga US$ 500 per ton. Jika demikian, maka perusahaan tersebut telah menghadapi masalah kritis.

Bila saja harga CPO terus tergerus dan bertengger . . .