Sebagai transmigran asal Jawa di Pulau Kalimantan, Agus Budiwasana memiliki kisah tersendiri. Dahulu, Agus memendam semua jeritan hatinya, lantaran nekat pergi dari kampung halaman, guna mengadu nasib menjadi petani kelapa hibrida. Usai berjibaku dengan pahit getirnya kehidupan, kini Agus meraih sukses sebagai petani kelapa sawit.
Berbagai ucapan terima kasih, banyak disebutkan Agus ketika menyampaikan sambutan selaku ketua koperasi perkebunan kongben bersatu. Dihadapan Bupati dan jajarannya, CEO perkebunan sinarmas dan banyak orang. Agus menyampaikan kegembiraan hatinya, karena dapat memanen buah kelapa sawit yang baru saja ditanamnya 2,5 tahun silam.
Benih Unggul Dami Mas, yang ditanamnya, menurut dia mampu membuktikan keberhasilannya, lantaran setelah ditanam sejak 2,5 tahun lalu, kini sudah mampu berbuah pasir dan siap untuk dipanen. Momentum panen perdana di kebun Agus, juga merupakan contoh bagi petani kelapa sawit lainnya jika ingin sukses berkebun kelapa sawit.
Ketika, dijumpai InfoSAWIT, Agus pula menceritakan perjalanan hidupnya hingga sukses sebagai petani kelapa sawit.
Awalnya, tahun 1980an, Agus mendapat lahan seluas 4 hektar sebagai peserta PIR Trans, di wilayah Muara Wahau, Kalimantan Timur. Sebagai petani kelapa hibrida waktu itu, Agus mulai panen perdana tahun 1986. Namun, keberadaan panen kelapa saat itu, justru menimbulkan masalah besar, lantaran tak ada perusahaan maupun orang yang bersedia membelinya.
Tak hanya persoalan klasik budidaya hingga hasil panen yang kesulitan akses, berbagai persoalan, seperti musim kering tahun 1997, kebakaran hutan dan sebagainya, menjadikan Agus berpikir seribu kali, bila mau melanjutkan profesi sebagai petani. Akhirnya, Agus memutuskan untuk bekerja serabutan selama beberapa tahun.
Agus kemudian berjumpa dengan kelapa sawit tahun 2001, waktu itu Pemerintah Daerah (Pemda) bekerjasama dengan Perusahaan Sinar Mas, menawarkan bantuan benih kelapa sawit kepada masyarakat sekitar. Kala itu, sebagian masyarakat menolak keras, lantaran trauma akibat masa lalu sebagai petani kelapa hibrida melalui program PIR Trans pemerintah.
Namun, Agus tidak berkecil hati, ketika . . .










