Kelapa sawit faktanya bisa menjadi subtitusi bahan baku kayu potensial, disaat ketersediaan bahan baku kayu yang diperkirakan bakal terus menyusut.
Industri pengolahan kayu di Indonesia masih penting bagi perekonomian nasional. Namun, ketersediaan bahan baku kayu diperkirakan akan menjadi kendala yang makin meningkat dimasa mendatang.
Sementara berbagai produk pertanian dan perkebunan terutama sawit yang telah mencapai luas mendekati 11 juta ha pada tahun 2015 dapat menyediakan sebagian kebutuhan bahan lignoselulosa yang selama ini bersumber terutama dari tanaman hutan.
Sawit merupakan tanaman perkebunan yang mampu menghasilkan bahan lignoselulosa baik secara terus menerus sepanjang tahun dari tandan buah kosongnya maupun lignoselulosa yang dihasilkan saat penebangan pohon sawit saat replanting. Potensi besar tersebut belum termanfaatkan secara optimal sehingga mampu memberi kontribusi finansial bagi pelaku usaha maupun perekonomian negara.
Indonesia menghasilkan produk lignoselulosa berasal dari sektor kehutanan sekitar 40 juta m3, sementara dengan produksi CPO mencapai lebih 30 juta ton pada tahun 2014, menghasilkan bahan lignoselulosa dari tandan kosong kelapa sawit lebih dari 35 juta ton, dan menghasilkan batang kelapa sawit akan meningkat ditahun-tahun mendatang.
Data yang ada menunjukkan jika replanting dilakukan sampai tanaman berumur 30 tahun, tahun 2015 akan ada 9000 ha lebih replanting, tahun 2016 akan melonjak lebih dari 100.000 ha. Jika perkebunan menghasilkan batang sawit perha 100 m3, maka tahun depan akan ada sekitar 10 juta m3 batang sawit menunggu pemanfaatan yang optimal.
Salah satu produk yang . . .










