Bagi petani, ini bisa menjadi kabar baik lantaran kini telah ada bibit sawit dari hasil teknologi semiklonal, yang diyakini bakal memiliki hasil produksi tinggi sekaligus lebih seragam.
Dalam menghasilkan bibit sawit unggul memang banyak cara bisa dilakukan, selain dengan cara konvensional juga bisa dengan menerapkan teknik kultur jaringan (tissue culture) yang saat ini lagi tren dikalangan produsen benih sawit nasional. Cara ini memang bisa menghasilkan benih sawit unggul lebih cepat dibandingkan teknik konvensional.
Namun untuk kali ini InfoSAWIT tidak membahas kecepatan dalam proses membuat benih sawit unggul, tetapi bakal membahas mengenai cara lainnya dalam menghasilkan benih sawit unggul, yakni cara semiklonal.
Cara ini memang belum banyak dilakukan oleh produsen benih sawit nasional, kalau pun ada yang menerapkan cara ini, belum dibarengi dengan proses penelitian secara mendalam.
Nah, lantaran belum banyak yang menggunakan teknik semiklonal, salah satu produsen benih sawit nasional, PT Bina Sawit Makmur (BSM) anak usaha PT Sampoerna Agro Tbk, telah lebih dulu mengembangkan bibit sawit dengan cara semiklonal.
Penelitian bibit sawit dengan cara semiklonal di PT BSM, kabarnya telah dilakukan semenjak 1999 silam. Memang butuh waktu tidak singkat, jika hasilnya baru didapat pada tahun ini, dengan terbitnya Keputusan Dirjenbun No. 31/Kpts/KB 020/1/2015, yang diteken Direktur Jenderal Perkebunan pada 5 Januari 2015 silam, tentang penambahan pohon induk pisifera klon untuk DxP Sriwijaya 1, Sriwijaya 5 dan Sriwijaya 6.
Namun lamanya waktu proses penelitian benih semiklonal itu, terbayar dengan hasil varietas benih sawit klonal untuk Sriwijaya (SJ) 1, SJ 5 dan SJ 6, dengan karakteristik benih sawit yang lebih baik.
Dikatakan Direktur PT Sampoerna Agro Tbk, Dwi Asmono, karakteristik benih sawit dari cara semiklonal, selain bakal menghasilkan produktivitas tinggi, pula hasilnya diyakini bakal lebih seragam.
Tentu saja dengan hasil produktivitas yang tinggi dan lebih seragam, bakal mendorong hasil produksi petani sawit nasional lebih tinggi lagi, alhasil pendapatan petani pun diyakini bakal langsung melonjak.
Lebih lanjut tutur Dwi Asmono, tidak ada perbedaan perlakuan antara benih sawit yang didapat dari cara semiklonal maupun konvensional. “Dinamakan bibit semiklon lantaran proses dalam menghasilkan bibit didapat dengan cara semiklon, sementara untuk proses budidaya sama seperti bibit sawit lainnya,” kata Dwi Asmono kepada InfoSAWIT belum lama ini di Jakarta.
Merujuk informasi dari perusahaan, . . .










