Berita Lintas
sawitbaik

Mengharap CSF Membalik Keadaan



Mengharap CSF Membalik Keadaan

Hanya dalam hitungan bulan pemerintah membuak kebijakan CPO Support Fund (CSF), hanya saja apa betul CSF bakal berimplikasi positif bagi industri perkebunan kelapa sawit dan biodiesel nasional.

Pungutan CSF yang sedianya diterapkan awal Mei 2015 silam, kembali dimundurkan pemberlakuannya di Juni 2015 ini. Namun, lagi-lagi penerapan CSF itun pun seolah masih menjadi kabur dan tidak persis kapan bakal diterapkan.

Padahal dalam pembuatannya CSF begitu cepat dilakukan, hanya dengan tiga kali koordinasi pemerintah telah menetapkan CSF sebagai instrumen baru pungutan ekspor, dikala pungutan Bea keluar (BK) yang masih dipatok 0% akibat harga CPO berada dibawah batas pengenaan BK.

CSF pun dikabarkan bakal menjadi alat pengumpulan dana untuk kebutuhan subsidi biodiesel, subsidi pendanaan peremajaan perkebunan kelapa sawit milik petani, pendanaan riset dan pengembangan serta untuk memenuhi kebutuhan lainnya dalam upaya  pengembangan industri kelapa sawit nasional.

Bagi pelaku industri biodiesel, kebijakan itu terasa janggal, lantaran jika pemerintah berkehendak mendukung bertumbuhnya industri biodiesel nasional, maka sebaiknya membuat kebijakan yang sifatnya lebih panjang.

Perlu juga diingat untuk kebutuhan subsidi biodiesel nasional, pemerintah telah memiliki pos subsidi yang sudah dianggarkan dan masuk dalam APBNP 2015 yang masuk dalam pos  subsidi untuk sektor energi sebanyak Rp 291,1 triliun, anggaran subsidi energi ini tercatat naikk sekitar 15,3% dibandingkan tahun 2014 yang mencapai Rp 246,5 triliun. (Baca InfoSAWIT Edisi September 2014, Malakama Diesel Sawit)

Sedianya dana itu dianggarkan untuk subsidi bahan bakar premium dan bahan bakar nabati. “Kalau tujuannya untuk subsidi biodiesel, pemerintah sudah punya anggarannya,” kata Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Kini pemerintah seolah mengabaikan pos subsidi yang sudah dianggarkan, malah membuka pos baru berupa kebijakan pungutan CSF. Padahal dengan membuka pos pungutan baru berarti ada resiko yang mesti ditanggung, baik oleh industri maupun petani sebagai pemasok bahan baku berupa Tandan Buah Segar (TBS) sawit.

Sehingga kebijakan CSF ini sarat dengan tekanan terhadap industri kelapa sawit nasional. Jika alasannya, CSF itu bakal mengerek harga CPO dengan terbukanya pasar baru biodiesel di domestik. Maka kejadian itu masih ditunggu banyak pihak, lantaran kenyataannya kebijakan biodiesel pun acap melenceng dari rencana.

Justru, dengan munculnya kebijakan CSF membuat daya saing industri perkebunan kelapa sawit terus....