JAKARTA - Telah sewindu tepatnya Indonesia mengenal praktik berkelanjutan lewat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), pro dan kontra pun masih kerap muncul. Benarkah praktik berkelanjutan sebuah paksaan?
Masifnya pertumbuhan perkebunan kelapa sawit nasional, telah membuka mata dunia. Bahwa telah hadir minyak nabati yang sekiranya bakal mampu memasok kebutuhan minyak dan lemak dunia yang terus melonjak, akibat bertumbuhnya populasi.
Dengan alasan melindungi lingkungan, perkebunan kelapa sawit utamanya di Indonesia acap kali mendapat tudingan negatif, seolah menjadi tertuduh tunggal rusaknya hutan Indonesia. Bahkan diumpakan perusakan itu dilakukan tanpa ampun.
Lantas kenapa kemudian muncul tudingan yang seolah pengembangan sawit itu lebih bnayak merusak. Konon kabarnya ini akibat minyak sawit memiliki berbagai keunggulan seperti berharga ekonomis, memiliki produktivitas tinggi dan bisa diaplikasi utuk berbagai jenis produk makanan, non makanan sampai bahan bakar. Pada akhirnya memunculkan kekhawatiran bakal menggerus pasar minyak kedelai, dan minyak nabati lainnya di dunia. (T2)
Lebih lengkap baca InfoSAWIT Edisi Oktober 2014










