Perlu Dukungan Semua Pihak Termasuk Pemerintah
Keberhasilan growers dalam menerapkan praktik budidaya kelapa sawit sesuai kaidah lingkungan dan sosial, tidak serta merta diikuti dengan insentif menarik, sebab itu perlu dukungan semua pihak termasuk pemerintah supaya praktik berkelanjutan bisa didorong lebih cepat.
Rasanya penerapan praktik budidaya kelapa sawit yang berkelanjutan di Indonesia tidak bisa disangsikan lagi, hampir sebagian besar perusahaan perkebunan kelapa sawit besar, menengah, dan kecil bahkan petani sawit merujuk penggunaan skim berkelanjutan itu.
Dengan demikian selama satu dasawarsa ini pelaku perkebunan kelapa sawit atau kerap disebut growers khususnya di Indonesia, telah berhasil menerapkan skim berkelanjutan yang terkadang masih memunculkan pro dan kontra.
Diakui atau tidak, pelaku perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mampu dan terus menerapkan praktik budidaya kelapa sawit yang ramah lingkungan dan sosial, bahkan tidak hanya pelaku, patani sawit pun turut didorong untuk menerapkan praktik budidaya kelapa sawit ramah lingkungan. Bahkan sudah ada kelompok petani yang memperoleh sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dan kabarnya masih ada beberapa kelompok petani yang juga sedang melakukan proses sertifikasi RSPO.
Indonesia pun kini tidak hanya dikenal sebagai produsen minyak sawit mentah (CPO) nomor wahid di dunia, tetapi juga sebagai produsen minyak sawit berkelanjutan (CSPO). Tepatnya tahun 2012 silam Indonesia mengungguli Malaysia dalam produksi CSPO di dunia.
Kini produksi CSPO Indonesia telah mencapai sekitar 51% dari total produksi CSPO di dunia yang mencapai 12,65 juta ton. Disusul Malaysia yang hanya memproduksi CSPO sebanyak 42% dari total produksi CSPO di dunia.
Insentif Skim Sustainable
Komitmen lingkungan yang ditunjukkan pelaku perkebunan kelapa sawit jelas tidak main-main, apalagi dalam penerapan praktik berkelanjutan ada add cost yang muncul. Namun dilain pihak penerapan praktik berkelanjutan bakal memberikan keuntungan, baik harga maupun citra.
Sebelumnya penerapan praktik berkelanjutan skim RSPO mendapatkan insentif berupa harga yang lebih tinggi dibandingkan minyak sawit non RSPO. Namun masalahnya kini, insentif demikian semakin memudar dan menjadi rendah.
Sebab itu tutur Advisor RSPO, Bungaran Saragih menyarankan, . . .










