Setelah lima perusahaan sepakat menandatangani janji kelapa sawit (Indonesia Palm Oil Pledge), kini tiba giliran PT Asta Agro Lestari Tbk menyusul ikut dalam kesepakatan tersebut, semuanya bahkan telah dipersiapkan.
Siapa tidak kenal dengan PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL)?, tentu bagi pelaku perkebunan kelapa sawit, perusahaan ini tidak asing apalagi perusahaan ini termasuk salah satu raksasa sawit dunia dengan luas lahan perkebunan sekitar 297.579 hektar (ha), terdiri dari 235.311 ha perkebunan inti dan 62.268 ha perkebunan plasma.
Dalam praktik bisnis sawitnya, AAL dituding tidak sebersih yang dibayangkan sebab ditengarai melakukan praktik budidaya tidak ramah lingkungan. Berdasarkan catatan pegiat lingkungan internasional Forest Heroes, perusahaan yang dimiliki konglomerat berbasis di Hongkong, Jardine Matheson, telah malakukan berbagai perusakan hutan di Indonesia.
AAL telah merebut hutan tropis seluas 14.000 ha sejak tahun 2007 dalam upaya pengembangan perkebunan kelapa sawit, termasuk bertanggung jawab terhadap pembukaan 27.000 ha lahan gambut yang kaya karbon sejak 2009 atau hampir sama dengan 2 juta ton polusi emisi yang dihasilkan dari 830 ribu kendaraan roda empat.
Menanggapi isu perusakan hutan yang dilakukan AAL ini, . . .










